Tsunami Utang, Faktor Zambia, & Kebangkitan Bitcoin

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
21 November 2020 21:00
A Bitcoin (virtual currency) coin is seen in an illustration picture taken at La Maison du Bitcoin in Paris, France, June 23, 2017. REUTERS/Benoit Tessier/ Foto: Bitcoin (REUTERS/Benoit Tessier)

Di tengah tsunami utang ersebut, dunia dikejutkan dengan pernyataan pemerintah Zambia yang secara resmi mengangkat bendera putih menghadapi kewajiban utangnya. Negara Afrika ini gagal bayar (default) atas pembayaran bunga sebesar US$ 42,5 juta (setara Rp 600 miliar), dari pokok obligasi berdenominasi euro (eurobond) setara US$ 3 triliun.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan adanya efek berantai, dengan munculnya Zambia lain yang menunggak pembayaran kewajiban utang. Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) pada akhir tahun lalu telah mengingatkan bahwa lebih dari 40% negara berpenghasilan rendah tengah menghadapi tekanan utang.

Peringatan itu dikeluarkan bahkan ketika pandemi belum menerpa. Akhir tahun ini, jika kondisi krisis terus berlangsung maka tak menutup kemungkinan akan bermunculan negara yang gagal bayar utangnya. Oleh karena itu, pertemuan G-20 memperpanjang Debt Service Suspension Initiative (DSSI) yang memberi kelonggaran sementara pembayaran kewajiban utang.


Bagi ekonomi dunia, mekanisme DSSI memberikan jaminan bahwa ekonomi akan baik-baik saja setidaknya hingga akhir tahun ini. Namun bagi investor global, realitas yang ada ini membuat mereka menghitung ulang risiko investasi.

Surat Berharga Negara (SBN) yang selama ini dinilai sebagai aset aman setelah emas dan dolar Amerika Serikat (AS) pun kehilangan kharismanya, di tengah tren kenaikan utang pemerintah dan risiko gagal bayar yang membesar. Di tengh situasi demkian, bitcoin pun unjuk gigi.

Harga bitcoin tercatat meroket hingga harganya sempat menembus US$ 18.0600 per keping pada Rabu lalu, alias Rp 255 juta! Ini menjadikannya sebagai aset paling menguntungkan di muka bumi, mengingat 12 tahun lalu bitcoin hanya dihargai US$ 0,08 (Rp 1.135) per keping.

qSumber: Refinitiv

Deutsche Bank dalam laporan yang ditulis Jim Reid melaporkan bhwa investor kian tertarik membeli bitcoin ketimbang emas, sebagai aset lindung nilai terhadap risiko kurs dan inflasi. Riset serupa juga diterbitkan oleh JPMorgan yang menyebutkan bahwa investor institusi beralih dari emas ke bitcoin.

Bahkan agak lebih optimistis, hedge fund manager, Bill Miller, sebagiamana dilaporkan Zerohedge memperkirakan bahwa setiap bank besar di dunia pada akhirnya akan memegang bitcoin sebagai salah satu aset investasi mereka untuk mengatasi risiko pandemi.

Jika skenario pemulihan ekonomi berbentuk 'kurva V' kan jauh panggang dari api, dengn munculnya 'kurva W' karena adanya gelombang kedua penyebaran Covid-19 maka tak menutup kemungkinan bitcoin akan mendampingi emas menjadi aset lindung nilai.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(ags/ags)
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading