Restrukturisasi Kredit Rp 933 T, Terbesar dalam Sejarah RI

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
20 November 2020 15:33
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Anggota Dewan Komisioner OJK, Heru Kristiyana SH (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Anggota Dewan Komisioner OJK, Heru Kristiyana SH (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pandemi Covid-19 memberikan dampak terganggunya hampir semua bisnis, termasuk di industri perbankan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan dampak pandemi menyebabkan perbankan harus melakukan restrukturisasi kredit yang jumlahnya saat ini sudah mencapai Rp 932,6 triliun, terbesar sepanjang sejarah.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Heru Kristiyana, jumlah kredit yang direstrukturisasai tersebut terdiri dari 7,53 juta debitur. Rinciannya, 5,84 juta terdiri dari debitur di sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), dengan outstanding Rp 369,83 triliun.

Sedangkan, sisanya 1,69 juta dari non-UMKM dengan total kredit yang direstrukturisasi senilai Rp 562,54 triliun.


"Saya kira ini adalah restruturisasi kredit paling besar sepanjang sejarah semenjak saya mengawasi bank sejak dari Bank Indoneisa sampai dengan OJK," kata Heru Kristiyana, dalam acara webinar secara daring, Jumat (20/11/2020).

Heru menyatakan, melalui Peraturan OJK (POJK) 11/POJK.03/2020 Tahun 2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Corona Virus Disease 2019, OJK telah memberlakukan kebijakan relaksasi kredit yang tujuannya diharapkan akan menguntungkan bagi dari sisi nasabah untuk menunda angsuran pokok maupun bunga, pun demikian, bagi industri perbankan mendapat memiliki ruang untuk menata arus kas.

"Dengan angka [restrukturisasai] yang begini besar, restrukturisasai ini akan memberikan ruang yang sangat baik bagi nasabah maupun bank menata cashflow, debitur menata diri menghadapi pandemi memenuhi kewajiban kepada bank," tuturnya.

Meski demikian, Heru menilai jika dampak pandemi terus berkepanjangan, industri perbankan harus siap dengan segala kemungkinan yang terburuk.

Namun, kata Heru, dalam menghadapi tantangan ke depan, kuncinya bank harus punya daya tahan dan kekuatan permodalan yang cukup. Hal tersebut harus sudah diantisipasi oleh industri perbankan, termasuk penurunan kualitas debitur jikalau restrukturisasi tidak berhasil.

"Tentunya, saya tidak berani membayangkan kalau dari Rp 932,6 triliun ini kalau misalnya gagal, ini dampaknya akan sangat luar biasa bagi perbankan kita ke depan," katanya.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading