Tak Ada Suku Bunga Negatif! Dolar Australia Naik ke Rp 10.300

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 November 2020 11:25
FILE PHOTO: Australian dollars are seen in an illustration photo February 8, 2018. REUTERS/Daniel Munoz/File Photo Foto: Foto Ilustrasi mata uang Dolar Australia. REUTERS / Daniel Munoz / File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Australia menguat melawan rupiah pada perdagangan Kamis (19/11/2020), melanjutkan penguatan hari sebelumnya. Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) yang sekali lagi menegaskan penerapan suku bunga negatif kemungkinan besar tidak akan diterapkan.

Melansir data Refinitiv, dolar Australia pagi ini menguat 0,4% ke Rp 10.304,78/AU$, di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Rilis notula rapat kebijakan moneter RBA yang dirilis kemarin mengkonfirmasi setelah memangkas suku bunga menjadi 0,1%, kebijakan moneter ke depannya akan berfokus pada pembelian aset (quantitative easing/QE).


Beberapa anggota dewan gubernur enggan untuk menerapkan suku bunga negatif, tetapi mereka kemungkinan akan menerapkannya jika semakin banyak bank sentral di dunia yang menerapkan suku bunga negatif.

Hal tersebut ditegaskan oleh Gubernur RBA, Philip Lowe, menegaskan suku bunga negatif "sangat tidak mungkin" diterapkan.

Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar menanti pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) siang nanti.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dan sejawat menggelar RDG pada 18-19 November 2020. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan BI 7 Day Reverse Repo Rate masih bertahan di 4%.

Dari 13 ekonom/analis yang terlibat dalam pembentukan konsensus, delapan di antaranya memperkirakan suku bunga acuan tidak akan berubah. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan adanya kejutan dari BI dengan memangkas suku bunga.

Selain itu pelaku pasar tentunya akan melihat petunjuk-petunjuk dari Gubernur Perry, mengenai kondisi perekonomian, stabilitas finansial, nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan moneter ke depannya.

BI hingga saat ini masih "merestui" rupiah untuk terus menguat baik Gubernur Perry dan pejabat BI lainnya berulang kali mengatakan rupiah masih undervalue, khususnya melawan dolar AS.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading