Kasihan Nikkei Jepang, Bursa Lain Happy, Dia Doang Memble

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
18 November 2020 11:26
A man walks in front of an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, June 17, 2020. Major Asian stock markets declined Wednesday after Wall Street gained on hopes for a global economic recovery and Japan's exports sank. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia mayoritas bergerak di zona hijau pada pukul 11:00 WIB, setelah sempat dibuka bervariasi pada pagi hari ini karena sentimen dari bursa Wall Street AS yang ditutup terkoreksi pada Selasa (17/11/2020) waktu Amerika Serikat (AS).

Pada pukul 11:00 WIB, data perdagangan mencatat, hanya indeks Nikkei di Jepang yang belum beranjak dari zona merah, di mana indeks di Negeri Sakura tersebut melemah 0,67%.

Sedangkan sisanya bergerak ke zona hijau pada pukul 11:00 WIB, yakni Hang Seng di Hong Kong yang menguat 0,57%, disusul Shanghai Composite China yang terapresiasi 0,47%, Straits Times Index (STI) Singapura naik 0,27% dan KOSPI Korea Selatan terpantau menguat 0,25%.


Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pukul 11:00 WIB terpantau menguat 0,49% ke level 5.557,25. Jelang penutupan sesi I, IHSG naik 0,41% di posisi 5.552, pada pukul 11.26 WIB.

Sebelumnya, pada pembukaan hari ini, bursa saham Asia dibuka bervariasi, merespons pelemahan bursa saham acuan global, Wall Street pada Selasa waktu AS atau Rabu pagi waktu Indonesia.

Tercatat, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melemah 167,09 poin atau 0,56% menjadi 29.783,35, S&P 500 terkoreksi 17,38 poin atau 0,48% menjadi 3.609,53 dan Nasdaq Composite terpangkas 24,79 poin atau 0,21% menjadi 11.899,34.

Penurunan bursa saham acuan global tersebut disebabkan karena adanya lonjakan kasus terjangkit virus corona (Covid-19) di Negeri Paman Sam, di tengah kabar positif dari beberapa kandidat vaksin virus Covid-19.

Dalam sepekan terakhir, AS mencatatkan 1 juta pasien baru virus Covid-19 sehingga total infeksi secara nasional menembus 11 juta, dengan 70.000 di antaranya harus dirawat di rumah sakit.

Bos The Fed, Jerome Powell menyoroti perlunya kehati-hatian, mencatat "tantangan dan ketidakpastian yang signifikan" tentang waktu, produksi, distribusi, dan kemanjuran vaksin, meski sudah dianggap berhasil.

"Dengan virus sekarang menyebar dengan kecepatan tinggi, beberapa bulan ke depan mungkin sangat menantang. Jadi mungkin terlalu dini untuk mengatakan dengan keyakinan apapun dampak dari vaksin terhadap jalur ekonomi," kata Powell dalam sebuah diskusi, dikutip dari AFP.

Sementara itu, data dari Departemen Perdagangan menunjukkan penjualan ritel AS pada Oktober 2020 meningkat, namun tetap mengecewakan dengan 0,3% dari September sebelumnya.

Data tersebut menunjukkan perlambatan pertumbuhan di sektor yang mulai bangkit kembali berkat bantuan besar-besaran dari pemerintah, membuat konsumen kembali berdatangan untuk berbelanja.

Data penjualan ritel tersebut juga jauh berbalik dari proyeksi analis dalam polling Dow Jones yang memperkirakan pertumbuhan 0,5%.

"Wajar jika pasar perlu tarik nafas terlebih dahulu, dan rilis penjualan ritel yang cukup mengecewakan memfasilitasi itu," tutur Chris Larkin, Direktur Pelaksana E-Trade, sebagaimana dikutip CNBC International.

Analis juga mencatat bahwa saham telah meningkat secara signifikan bulan ini, dan dijadwalkan untuk jeda atau mundur.

"Tampaknya pasar tidak benar-benar dalam bahaya untuk mengembalikan keuntungan serius," kata Peter Cardillo dari Spartan Capital.

Sementara itu, di kawasan Asia sendiri, data ekonomi yang telah dirilis hari ini adalah data neraca perdagangan Jepang dan data ekspor-impor Jepang untuk periode Oktober 2020.

Melansir data dari Trading Economics, ekspor Negeri Sakura tersebut mulai tumbuh menjadi -0,2%. Walaupun masih di zona negatif, namun angka ini lebih baik dibandingkan dengan periode sebelumnya yang berada di angka -4,9%.

Sedangkan impor Negeri Sakura juga tumbuh di zona negatif, yakni menjadi -13,3% dari sebelumnya -17,4%.

Adapun neraca perdagangan Jepang mengalami surplus, yakni menjadi ¥ 872,9 miliar dari sebelumnya sebesar ¥ 687,8 miliar.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading