Analisis Teknikal

Resesi RI Sudah Basi, Rupiah Siap Perkasa ke Level 14.300/US$

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
06 November 2020 08:57
Karyawan menunjukkan pecahan uang dollar di salah satu tempat penukaran uang di kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jumat (16/3/2018). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah menguat tajam 1,17% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14.370/US$ pada perdagangan Kamis kemarin. Level tersebut merupakan yang terkuat dalam 3,5 bulan, tepatnya sejak 14 Juli lalu.

Hasil sementara pemilihan umum di AS membuat sentimen pelaku pasar global membaik. Saat sentimen membaik, aliran modal tentunya akan menuju negara emerging market yang memberikan yield tinggi seperti Indonesia, alhasil rupiah pun jadi perkasa.

Secara keseluruhan hasil sementara pemilihan umum di AS menunjukkan Joe Biden masih unggul atas Donald Trump, sementara House of Representatif (Dewan Perwakilan Rakyat/DPR) masih dikuasai Partai Demokrat, dan Senat juga tetap didominasi Partai Republik.


Dengan skenario tersebut, jika Biden menjadi presiden AS, maka perang dagang dengan China kemungkinan akan berakhir, atau setidaknya tidak akan memburuk. Sementara dengan Senat yang masih dikontrol Partai Republik, rencana untuk menaikkan pajak korporasi kemungkinan akan sulit terealisasi.

Selain itu dengan kemenangan Biden, paket stimulus fiskal yang akan digelontorkan tentunya akan lebih besar, sehingga membuat pasar semakin sumringah. Negara-negara emerging market seperti Indonesia juga berpotensi kecipratan aliran modal.

Di sisi lain, semakin besar stimulus fiskal artinya jumlah uang beredar di perekonomian akan semakin banyak, secara teori dolar AS akan melemah.

Sentimen dari eksternal tersebut membuat rupiah mampu terus menguat meski Republik Indonesia (RI) sudah resmi mengalami resesi.

Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin melaporkan pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III-2020 mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 3,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).

Ini menjadi kontraksi kedua setelah kuartal sebelumnya output ekonomi tumbuh negatif 5,32% YoY.

Indonesia sah masuk jurang resesi untuk kali pertama sejak 1999.

Resesi bisa dikatakan sudah "basi" sebab sudah diantisipasi jauh-jauh hari oleh pelaku pasar, kini yang terpenting bagaimana pemulihan ekonomi di kuartal IV-2020.


Secara teknikal, rupiah sudah mencapai target penguatan dari pola Descending Triangle di Rp 14.365/US$.

Tinggi pola Descending Triangle tersebut sebesar Rp 235, dengan batas bawah di Rp 14.600/US$.

Ketika batas bawah tersebut ditembus pada Selasa (3/11/2020) lalu, rupiah terus melaju kencang, hingga mencapai target penguatan Rp 13.365/US$ kemarin.
Dengan momentum penguatan yang masih besar, Mata Uang Garuda berpotensi terus melaju.

Support terdekat di kisaran Rp 14.350/US$ (level low kemarin), jika ditembus rupiah berpotensi menguat ke Rp 13.320 hingga 13.300/US$.

Support selanjutnya jika level tersebut dilewati di Rp 14.250/US$.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Sementara itu, indikator stochastic pada grafik harian yang berada di wilayah jenuh jual (oversold).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya ada risiko rupiah akan terkoreksi, dengan resisten berada di kisaran Rp 14.420/US$. Jika dilewati, rupiah berisiko melemah lebih jauh.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading