Jangan Kaget! Lo Kheng Hong Tak Suka Investasi Emas, Kenapa?

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
29 October 2020 12:05
Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, CNBC Indonesia - Warren Buffett Indonesia, Lo Kheng Hong terang-terangan mengatakan tidak tertarik berinvestasi di instrumen lain, seperti obligasi ataupun emas. Dirinya hanya tertarik membeli saham karena terbukti membuatnya kaya dan memiliki harta ratusan miliar.

Lo mengungkapkan alasan utama yang membuat dirinya berinvestasi saham, khususnya di pasar saham Indonesia.

"Bursa saham Indonesia menawarkan imbal hasil tertinggi diantara bursa saham utama di dunia bagi investor jangka panjang. Sudah terbukti! Saya bersyukur saya ada di dalamnya," kata Lo dalam acara Capital Market Summit & Expo 2020 secara virtual akhir pekan lalu.


Mengapa Lo tidak menempatkan uangnya di bank? Menurutnya, inflasi, kenaikan harga-harga barang harnya naik, maka kalau banyak menyimpan uang di bank, "sebetulnya membuat kita miskin secara pelan-pelan karena nilai uang kita semakin hari semakin turun."

Lo juga memilih tidak membeli obligasi, karena menurutnya bunga yang diberikan juga tidak besar.

"Saya juga tidak membeli emas," kata Lo.

Kenapa Lo tidak mau membeli emas? Rupanya dia terinspirasi cerita dari Warren Buffett.

Sewaktu Buffett mengambil alih saham Berkshire Hathaway, harganya hanya US$ 15/saham. Pada waktu itu harga emas US$ 20/troy ounce.

Pada 2012, Buffett membandingkan lagi, harga emas US$ 1.600/troy ounce, sementara harga saham Berkshire sudah US$ 120.000/saham. Dan di 2019, harga emas sempat US$ 1.250/troy ounce dan harga saham Berkshire sudah US$ 305.000/saham.

"Jauh lebih menguntungka membeli saham dari pada membeli emas. Saya juga tidak pegang dolar (mata uang dolar AS). Biasanya orang yang pegang dolar, suka mengharapkan yang buruk yang terjadi. Beda dengan orang yang pegang saham, dia selalu mengharapkan hal-hal yang baik yang terjadi," ungkap Lo.

Hingga saat ini, kata Lo, hampir 99% masyarakat Indonesia tidak percaya kalau investasi saham adalah pilihan terbaik. Masyarakat lebih menempatkan uang di bank atau dibelikan properti, dibanding beli saham.

"Kata-kata saham is the best choice masih tidak dipercaya oleh 99% masyarakat kita," kata Lo.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading