Mau Jadi 'Raja' EV Battery, Antam Buka-bukaan Produksi Nikel

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
23 October 2020 15:08
FILE PHOTO: A worker holds iron ore at the Krakatau Bandar Samudra port, a subsidiary of PT Krakatau Steel Tbk in Cilegon, Indonesia's Banten province February 21, 2013. REUTERS/Beawiharta/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan pertambangan mineral pelat merah, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mengalami kenaikan produksi nikel 6% sepanjang kuartal ketiga tahun ini menjadi 6.371 ton nikel dalam feronikel (TNi). Pada periode yang sama tahun sebelumnya produksi nikel Antam sebanyak 6.462 TNi.

Sedangkan untuk produksi sepanjang tahun tercatat sebanyak 19.133 TNi dengan jumlah penjualan sebanyak 19.507 TNi.

Berdasarkan siaran pers yang dirilis perusahaan, untuk produksi bijih nikel tercatat sebanyak 1,49 juta wet metric ton (wmt). Jumlah ini naik 100% dari triwulan kedua tahun ini yang hanya sebanyak 745 ribu wmt.


Dari segi penjualan, pada periode tersebut tercatat sebanyak 1,04 juta wmt yang juga mengalami kenaikan signifikan dibanding dengan kuartal sebelumnya yang sebanyak 168 ribu wmt.

Sepanjang tahun jumlah bijih nikel yang berhasil diproduksi sebanyak 2,86 juta wmt dengan penjualan sebanyak 1,21 juta wmt.

"Antam berfokus dalam pengembangan pasar domestik bijih nikel seiring denganoutlook pertumbuhan industri pengolahan nikel di dalam negeri," tulis siaran pers tersebut, Jumat (23/10/2020).

Faktor lainnya adalah ditetapkannya harga patokan mineral (HPM) oleh pemerintah sehingga penjualan bijih nikel di dalam negeri menjadi lebih kompetitif.

Hingga akhir tahun lalu perusahaan mencatatkan cadangan nikel mencapai 353,74 juta wmt dengan sumber daya bijih nikel mencapai 1,36 miliar wmt.

Sedangkan untuk potensi cadangan dan sumber daya mineral yang dimiliki Antam saat ini menjadi potensi perusahaan untuk pengembangan bisnis melalui hilirisasi nikel untuk menciptakan nilai tambah bagi perusahaan.

Adapun sebelumnya perusahaan disebut bakal terlibat dalam proyek electric vehicle (EV) Battery Indonesia bersama dengan dua perusahaan pelat merah lainnya. Rencananya dalam proyek tersebut, Antam akan mengambil bagian sebagai penambang dan pengolahan nikel sulfat.

SVP Corporate Secretary Antam Kunto Hendrapawoko mengatakan untuk melaksanakan rencana tersebut, saat ini perusahaan dengan induk usahanya PT Inalum (Persero) atau MIND ID tengah melakukan studi kelayakan pelaksanaan proyek ini.

"Antam berencana akan mengambil peran dalam penambangan serta pengolahan nikel sulfat. Saat ini, ANTAM bersama MIND ID sedang melakukan kajian secara komprehensif terkait studi kelayakan," kata Kunto kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/10/2020).

Saat ini bersama dengan MIND ID, Antam juga tengah melakukan diskusi dengan calon-calon mitra strategis yang akan ikut terlibat dalam proyek ini. Mitra ini berasal dari dalam dan luar negeri.

Seperti diketahui, ada dua produsen baterai kendaraan listrik terbesar dunia yang menyatakan minat untuk berinvestasi di proyek pabrik baterai di Indonesia, yakni Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dari China dan LG Chem Ltd asal Korea Selatan.

Kemudian, Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak juga menyebutkan bahwa saat ini pihaknya juga tengah melakukan pembicaraan dengan calon investor asal Jepang untuk ikut berpartisipasi dalam proyek tersebut.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa Menteri BUMN Erick Thohir telah membentuk tim untuk pengembangan industri baterai kendaraan listrik sejak awal tahun dan diketuai oleh Komisaris Utama MIND ID Agus Tjahjana Wirakusumah.

Proyek EV Battery di Indonesia ini diperkirakan akan bernilai sebesar US$ 20 miliar atau setara Rp 296 triliun (asumsi kurs Rp 14.800 per US$).


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading