Hati-hati! Analis Sebut Valuasi Saham BRIS Udah Kemahalan Bro

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
22 October 2020 12:08
Merger bank syariah BUMN/dok BUMN

Jakarta, CNBC Indonesia - Kalangan analis pasar modal menilai harga saham PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) pada level saat ini Rp 1.300-Rp 1.395/saham melebihi nilai harga wajarnya. Harga ini terpengaruh sentimen positif merger bank syariah BUMN. 

Data perdagangan mencatat, saham BRIS bahkan pernah menyentuh level tertinggi sepanjang saham tersebut tercatat di BEI yakni Rp 1.500/saham yang dicapai pada Selasa 20 Oktober lalu.

Level harga tertinggi itu dicapai sehari sebelum pengumuman merger dipublikasikan oleh BRIS dan dua bank lainnya yang menjadi peserta merger yakni PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS).


Pada perdagangan sesi I, Kamis ini (22/10), saham BRIS terkoreksi dan menyentuh auto reject bawah (ARB) minus 6,81% di posisi Rp 1.300/saham, melanjutkan koreksi Rabu kemarin yang juga kena ARB.

Kepala Riset PT Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan dengan dilusi saham cukup besar, maka investor publik bisa kembali melihat preferensi masing-masing. Hal ini penting untuk melihat apakah valuasi saham BRIS saat ini masih terbilang fair atau tidak dari harga wajarnya.

"Akan tetapi valuasi BRIS saat ini sudah tergolong tinggi bahkan lebih mahal ketimbang seluruh bank BUMN induk," katanya dihubungi CNBC Indonesia, Kamis (22/10/2020).

Data BEI mencatat, berdasarkan rasio price to book value (PBV) atau rasio harga terhadap nilai buku. PBV BRIS saat ini di level 2,42 kali. 

Sementara PBV bank syariah lainnya yakni PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS) level PBV-nya sebesar 0,71 kali di harga saham Rp 50/saham.

Adapun PBV Himbara (Himpunan Bank-bank Milik Negara) yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 2,16 kali, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 1,42 kali, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) 0,83 kali, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) 0,80 kali.

PBV digunakan untuk melihat seberapa besar kelipatan dari nilai pasar saham perusahaan dengan nilai bukunya.

Besaran PBV, misalnya sebesar 2 kali, berarti harga saham naik dua kali lipat dibandingkan kekayaan bersih suatu perusahaan, atau harga sahamnya 2 kali lipat lebih mahal dari modal bersihnya.

BRIS dalam proses menerima merger dua bank syariah BUMN lainnya yakni BSM dan BNIS.

Namun apabila ada pemegang saham minoritas yang tidak setuju akan merger ini, BBRI atau pihak lain yang ditunjuk BBRI siap membeli saham pemegang saham minoritas (cash offer) tersebut di harga Rp 781,29 per saham BRIS yang merupakan nilai pasar wajar BRIS.

Nilai wajar itu sebagaimana dinilai oleh KJPP Suwendho, Rinaldy dan Rekan, jauh di bawah harga pasar BRIS yang saat ini diperdagangkan di harga Rp 1.300-an/saham.

Para pemegang saham minoritas BRIS yang berhak untuk meminta sahamnya dibeli adalah para pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham BRIS pada 19 November 2020, yaitu satu hari kerja sebelum pemanggilan RUPSLB.

Periode permohonan penjualan saham dimulai dari tanggal 17 Desember 2020 hingga 5 Januari 2021.

Harga penawaran beli BRIS oleh BRI Rp 781,29/saham pun tidak jauh berbeda dengan book value per share (BVPS) per Juni 2020 sebesar Rp 536/saham.

Pemegang saham BRIS usai merger, prospektusFoto: Pemegang saham BRIS usai merger, prospektus
Pemegang saham BRIS usai merger, prospektus

Dari sisi investor publik, pemegang saham publik di BRIS akan terdilusi menjadi tinggal 4,4% dalam proses merger bank syariah BUMN.

Adapun Bank Mandiri akan menjadi pemegang saham dominan BRIS dengan kepemilikan hingga 51% dalam skema penggabungan atau merger tiga bank syariah BUMN ini.

"Investor publik BRIS tentu tidak mengharapkan dilusi sebesar itu meski BRIS nantinya wajib melakukan refloat [memperbesar saham publik] supaya memenuhi ketentuan minimal free float 7,5%," kata Suria.

Berdasarkan keterangan resmi pemerintah, komposisi pemegang saham pada lainnya selain BMRI 51% di BRIS adalah BBNI 25,0%, BBRI 17,4%, DPLK BRI-Saham Syariah 2% dan investor publik 4,4%.

Sebagai perbandingan, data laporan keuangan per Juni 2020 mencatat saham BRIS dipegang publik sebesar 18,34%, sementara BRI 73%, dan 8,6% dipegang DPLK Bank Rakyat Indonesia-Syariah.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading