Harga Minyak Rontok, Dihantui Sentimen Oversupply

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
22 October 2020 09:28
FILE PHOTO: Oil pours out of a spout from Edwin Drake's original 1859 well that launched the modern petroleum industry at the Drake Well Museum and Park in Titusville, Pennsylvania U.S., October 5, 2017. REUTERS/Brendan McDermid/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Stok minyak mentah AS memang turun pekan lalu. Namun persediaan bensin justru mengalami kenaikan yang mengindikasikan lemahnya permintaan terhadap bahan bakar fosil tersebut. Pada akhirnya harga minyak mentah pun terkoreksi.

Pada perdagangan kemarin (21/10/2020) harga minyak berjangka acuan global yakni Brent maupun patokan AS West Texas Intermediate (WTI) ambles lebih dari 3%. Koreksi harga emas hitam pun berlanjut pagi ini Kamis (22/10/2020).

Pada 08.25 WIB, harga minyak berjangka Brent turun 0,41% ke US$ 41,56/barel, sementara untuk kontrak berjangka WTI harganya terpangkas 0,47% ke level US$ 39,84/barel.


Badan informasi energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah Paman Sam pekan lalu turun 1 juta barel sesuai dengan proyeksi para analis dan berbeda dengan data asosiasi industri (API) yang menyebut ada kenaikan 584 ribu barel.

Meski stok minyak mentah turun, tetapi persediaan bensin justru naik tinggi di luar dugaan. Konsensus pasar yang dihimpun Trading Economics memperkirakan stok bensin turun 1,83 juta barel atau turun lebih dalam dibanding pekan sebelumnya yang hanya berkurang 1,63 juta barel. 

Namun bukannya turun, stok bensin AS justru naik sampai 1,89 juta barel. Kenaikan stok semakin mengindikasikan bahwa permintaan terhadap minyak masih tertekan dan belum pulih benar. 

Saat ini risiko pemulihan permintaan minyak juga dihadang oleh lonjakan kasus infeksi Covid-19 yang tinggi di berbagai negara terutama di Eropa dan Amerika Utara. Mulai banyak negara di Benua Biru yang menggalakkan kembali lockdown meski skalanya tak sebesar sebelumnya. 

"Pasar secara serius bergulat dengan permintaan di tengah terus meningkatnya kasus Covid-19," kata Tony Headrick, analis pasar energi di CHS Hedging. "Brent terutama terekspos ke kawasan Eropa yang sedang menjalani lockdown baru," tambahnya, melansir Reuters.

Organisasi negara eksportir minyak dan sekutunya termasuk Rusia (OPEC+) sepakat untuk memangkas pengurangan produksi pada Januari dari 7,7 juta barel per hari (bpd) saat ini menjadi sekitar 5,7 juta bpd.

Artinya pemangkasan produksi tidak lagi agresif dan pasokan di pasar bakal bertambah 2 juta bpd mulai awal tahun depan. Namun di saat yang sama prospek permintaan minyak masih suram.

Semua mata kini tertuju pada para kartel (OPEC+). Banyak pihak yang berharap OPEC+ akan mengambil langkah untuk menyeimbangkan antara pasokan dan permintaan. Namun pernyataan mengejutkan datang dari menteri energi Rusia. 

Pada hari Selasa, menteri energi Rusia mengatakan terlalu dini untuk membahas masa depan pembatasan produksi minyak global setelah Desember, kurang dari seminggu setelah mengatakan rencana untuk mengurangi pembatasan produksi harus dilanjutkan.

Pada saat yang sama, anggota OPEC Libya yang dibebaskan dari kesepakatan disebut telah meningkatkan produksinya pasca konflik bersenjata menutup ladang minyak terbesarnya pada bulan Januari.

Reuters melaporkan produksi Libya telah pulih menjadi sekitar 500.000 bpd dan Tripoli mengharapkan angka itu menjadi dua kali lipat pada akhir tahun. Sebelum anjlok di bawah 200 ribu bpd karena konflik, produksi minyak Libya mencapai 1,2 juta bpd.

Ketika ada ancaman permintaan minyak bisa drop lagi akibat lockdown, pasar justru dibanjiri dengan pasokan yang membuat kondisi semakin memburuk. Pasar kembali dibayangi dengan momok menakutkan bernama oversupply. Harga minyak pun harus rela terpangkas.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading