Loncat di Penghujung Acara, IHSG Merah Tipis, Asing Kabur!

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
16 October 2020 15:22
Laju bursa saham domestik langsung tertekan dalam pada perdagangan hari ini, Kamis (10/9/2020) usai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai Senin pekan depan.

Sontak, investor di pasar saham bereaksi negatif. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok lebih dari 4% ke level 4.920,61 poin. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih Rp 430,47 miliar sampai dengan pukul 10.18 WIB.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di akhir pekan ini, Jumat (16/10/20) akhirnya ditutup merah tipis 0,03% di level 5.103,41.

IHSG berhasil melesat dan memangkas koreksi pada penutupan perdagangan alias sesi pre-closing sehingga ambrolnya tak begitu parah.

Sejatinya IHSG seharian berada di zona merah karena para pelaku pasar mulai pesimis setelah bursa acuan global di Wall Street terkoreksi pada perdagangan dini hari tadi dan peningkatan kasus corona di AS dan Benua Biru.


Aksi profit taking alias ambil untung juga masih berlanjut setelah kemarin lusa IHSG terbang 8 hari beruntun.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 505 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 7,7 triliun. Tercatat 179 saham berhasil naik, 228 saham turun, dan sisanya 166 stagnan.

Saham yang paling banyak dilego asing hari ini adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan jual bersih sebesar Rp 128 miliar dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 142 miliar.

Sementara itu saham yang paling banyak dikoleksi asing hari ini adalah PT Tower Bersama Infrastucture Tbk (TBIG) dengan beli bersih sebesar Rp 10 miliar dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dengan net buy sebesar Rp 9 miliar.

Indeks acuan di Benua Asia terpantau bervariatif. Nikkei turun 0,41%, Hang Seng naik 0,94%, sedangkan STI SIngapore juga ikut nanjak 0,31%.

Hari ini, di kawasan Asia, data ekonomi yang dirilis adalah data harga ekspor-impor dan data tingkat pengangguran di Korea Selatan.

Tercatat, ekspor Negeri Ginseng pada September secara year-on-year (YoY) terkontraksi 6,2%. Walaupun masih tumbuh minus, namun lebih baik dari capaian periode yang sama tahun lalu yang anjlok 6,7%.

Sedangkan data tingkat pengangguran Korea Selatan pada September 2020 naik 0,7 poin menjadi 3,9% dari posisi Agustus 2020 di angka 3,2%.

Pelaku pasar di New York cemas melihat data ketenagakerjaan terbaru di Negeri Paman Sam.

Klaim tunjangan pengangguran pada pekan yang berakhir 10 Oktober tercatat 898.000, naik dibandingkan pekan sebelumnya yaitu 845.000. Juga lebih tinggi ketimbang konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan perkiraan 825.000.

Data ekonomi lain juga membuat investor kecewa. Angka pembacaan awal indeks kondisi bisnis keluaran Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) cabang New York periode Oktober 2020 adalah sebesar 32,8. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yakni 40,3.

Dari benua Biru, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, jumlah pasien positif corona di Benua Biru per 15 Oktober adalah 7.406.193 orang. Bertambah 131.726 orang (1,81%) dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Tambahan 131.726 orang pasien baru dalam sehari adalah rekor tertinggi sejak virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China itu mewabah di Eropa. Sedangkan pertumbuhan 1,81% menjadi yang tercepat sejak 10 Oktober.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading