Saham Garuda & KRAS Melesat, Masih Menarik untuk Diserok?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
15 October 2020 13:43
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia, Jumat 28/2/2020 (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta,CNBC Indonesia Saham duo emiten Pelat Merah yakni PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) berhasil melesat pada perdagangan hari ini.

Pada perdagangan sesi I, saham GIAA berhasil naik 7% ke level harga Rp 400/unit sedangkan KRAS berhasil terbang 10% ke level harga RP 500/unit.

Usut punya usut terbangnya kedua emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini karena pemerintah siap menempatkan dana total Rp 11,5 triliun kepada kedua perusahaan tersebut dengan skema Obligasi Wajib Konversi (OWK) alias Mandatory Convertible Bonds (MCB).


Setelah melesat pada perdagangan sesi pertama hari ini, sebenarnya bagaimanakah prospek kedua saham tersebut di tengah serangan pandemi virus corona dan bagaimana sebenarnya valuasi kedua emiten ini.

Pertama, untuk GIAA kondisi emiten maskapai penerbangan ini babak belur setelah diserang oleh virus Covid-19. Tercatat pada semester pertama tahun ini GIAA terpaksa membukukan rugi bersih sebesar US$ 712,73 juta atau Rp 10,51 triliun (Kurs Rp 14.750/US$).

Kerugian bersih ini bisa ditranslasikan menjadi angka Laba Per Saham yang disetahunkan atau EPS sebesar US$ 0,05507 atau rugi bersih sebesar Rp 812/unit, sementara karena harga pasar GIAA saat ini hanyalah Rp 252/unit.

Rugi bersih yang sangat jumbo ini menyebabkan ekuitas perusahaan tergerus pada kuartal II-2020. Tercatat GIAA memiliki ekuitas sebesar negatif US$ 88,12 juta atau minus Rp 1,29 triliun.

Karena mengalami rugi bersih dan ekuitasnya minus maka metode valuasi harga pasar dibanding laba bersih (PER) dan harga pasar dibanding nilai buku (PBV) tidak dapat dianalisis.

Hal inilah yang akhirnya mendorong pemerintah melalui kementerian terkait menempatkan dana sebesar Rp 8,5 triliun melalui skema OWK, hal ini tentunya akan mendilusikan kepemilikan pemegang saham eksisting.

Apalagi mengingat kapitalisasi pasar GIAA hanya berada di angka Rp 6,52 triliun sehingga nantinya pemegang saham eksisting akan terdilusi lebih dari 50% apabila harga pelaksanaan OWK dilakukan di harga saat ini.

Prospek usaha GIAA setelah ditempatkan dana juga belum jelas, dana ini nantinya hanya mampu digunakan GIAA untuk 'bertahan hidup' selama masa pandemi Covid-19, mengingat rilis analisis dampak corona berbagai lembaga menempatkan sektor penerbangan dan pariwisata sebagai sektor yang akan pulih paling akhir yakni disekitar tahun 2022-2023.

Hal ini juga dikonfirmasi oleh Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra. "Buat idup, buat modal kerja. Jadi buat kita idup. Kan penumpang turun jauh, kewajiban jalan terus," jelas Irfan, Senin (22/6/2020).

Kondisi saham GIAA saat ini sendiri cukup memprihatinkan di angka Rp 252/unit, secara tahun berjalan maskapai penerbangan Pelat Merah ini masih terkoreksi 49,40%.

Bak bumi dan langit, berbeda dengan GIAA, saham KRAS mampu terbang 28,95% ke level Rp 392/unit selama tahun berjalan karena investor mulai optimis terhadap KRAS.

Setelah merekstrukturisasi utang akhirnya KRAS mampu membukukan laba bersih pertama kalinya sejak 8 tahun terakhir dengan laba bersih senilai US$ 74,14 juta pada kuartal pertama tahun 2020.

Meski kinerja saham berbeda nasib, nantinya KRAS juga akan ditempatkan dana sebesar Rp 3 triliun melalui skenario yang sama yakni OWK.

Tentunya ini akan menyebabkan pemegang saham eksisting terdilusi, akan tetapi dilusi di saham KRAS apabila harga konversi MCB terjadi di harga saat ini yakni Rp 392/unit maka dilusi saham KRAS tidak akan separah dilusi yang terjadi di saham GIAA sebab kapitalisasi pasar KRAS saat ini berada di angka Rp 7,58 triliun.

Pada semester pertama tahun ini sendiri KRAS berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 4,51 juta atau setara dengan Rp 66,52 miliar yang apabila ditranslasikan menjadi laba bersih per saham secara tahunan berada di angka US$ 0,00047/unit atau Rp 7/unit.

Apabila valuasi PER digunakan maka dengan PER di angka 58,32 kali sebenarnya harga KRAS sudah tergolong mahal sebab rata-rata emiten industri besi memiliki PER sebesar 7,8 kali.

Sedangkan apabila metode valuasi PBV yang digunakan maka dengan PBV di angka 1,03 kali sebenarnya harga saham KRAS masih dapat dikategorikan sebagai harga wajar.

TIM RISETCNBCINDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading