Tarik Ulur Stimulus AS, Bursa Asia Dibuka Memerah

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
15 October 2020 08:45
pasar saham asia Foto: ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia pada pembukaan Kamis (15/10/2020) mayoritas dibuka melemah, seiring dari ketidakpastian stimulus fiskal Amerika Serikat (AS) dan lonjakan kasus virus corona (Covid-19) di Perancis dan Rusia.

Tercatat indeks Nikkei di Jepang dibuka melemah 0,30%, Hang Seng di Hong Kong anjlok 0,54%, Shanghai China menguat tipis 0,06%, STI Singapura terkoreksi 0,46% dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,29%.

Bursa Asia dibuka di zona merah mengikuti bursa saham acuan global, Wall Street yang ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (14/10/2020) waktu AS.


Beralih ke Wall Street, tiga indeks utama ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average (DJIA turun 0,58% ke 28.514, S&P 500 terkoreksi 0,66% menjadi 3.488,62, dan Nasdaq Composite berkurang 0,8% ke 11.768,73.

Investor di bursa saham New York kecewa dengan perkembangan terbaru pembahasan stimulus fiskal di Negeri Adidaya.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengungkapkan sepertinya kesepakatan paket stimulus sulit untuk diwujudkan sebelum pemilihan presiden (pilpres) yang akan dihelat awal November mendatang.

"Untuk saat ini saya bisa bilang menyepakati sesuatu sebelum pilpres dan melaksanakannya akan sulit. Namun kami akan terus mencoba untuk mengatasi masalah ini," kata Mnuchin dalam acara Milken Institute Global Conference di Washington, seperti dikutip dari Reuters.

Kemarin, Nancy Pelosi (Ketua House of Representatives, salam satu dari dua kamar yang membentuk Kongres AS) menolak proposal paket stimulus bernilai US$ 1,8 triliun yang diajukan Gedung Putih. Angka tersebut masih di bawah usulan Partai Demokrat yaitu US$ 2,2 triliun.

Drew Hammill, Juru Bicara Pelosi, mengatakan kedua pihak sudah melakukan dialog tetapi belum mencapai kesepakatan. Mnuchin dan Pelosi dijadwalkan kembali berdialog pada Kamis waktu Washington.

Selain itu, lonjakan kasus Covid-19 di kawasan Eropa, terutama di Perancis dan Rusia juga menjadi penyebab bursa global kembali terkoreksi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien positif corona di Eropa per 14 Oktober adalah 7.219.501 orang. Bertambah 100.256 orang (1,41%) dibandingkan sehari sebelumnya.

Dalam 14 hari terakhir (1-14 Oktober), rata-rata pasien baru bertambah 95.488 orang per hari. Melonjak dibandingkan 14 hari sebelumnya yaitu 64.626 orang per hari.

Hal itu membuat Pemerintah Perancis mulai hari ini memberlakukan status darurat kesehatan nasional.

"Pandemi virus corona merupakan bencana kesehatan. Ini memberi justifikasi pemberlakuan kondisi darurat sehingga pemerintah dapat melakukan berbagai langkah yang proporsional untuk menurunkan risiko gangguan kesehatan masyarakat," sebut keterangan resmi pemerintah Prancis, seperti dikutip dari Reuters.

Presiden Perancis, Emmanuel Macron memang belum menyebut secara eksplisit soal langkah yang akan ditempuh.

Namun atas nama kondisi darurat nasional, pemerintah punya kuasa untuk menerapkan berbagai kebijakan, termasuk kembali melakukan karantina wilayah (lockdown) berskala nasional.

Sementara di Rusia, tambahan pasien baru menembus rekor tertinggi dalam sehari yaitu mencapai 14.231 orang. Perkembangan ini membuat pemerintah Kota Moskow melarang aktivitas belajar-mengajar tatap muka di kelas untuk siswa sekolah menengah.

"Keputusan yang tidak mudah. Namun sangat dibutuhkan mengingat situasi epidemi yang tidak memungkinkan," kata Sergei Sobyanin, Wali Kota Moskow, sebagaimana diwartakan Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sambut Happy Weekend, Bursa Asia Ijo Royo-royo Gaes!


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading