Noda Merah Bursa Asia, Bikin Grogi Bursa Saham RI

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
14 October 2020 08:45
bursa saham asia Foto: ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Asia pada Rabu (14/10/2020) mayoritas dibuka melemah, seiring dari aksi profit taking investor yang menyebabkan Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup melemah pada Selasa (13/10/2020) waktu AS.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka melemah 0,26%, indeks Shanghai China terdepresiasi 0,18% STI Singapura anjlok 0,25%, KOSPI Korea Selatan turun tipis 0,03% dan Hang Seng Hong Kong menguat 0,65%.

Indeks Hang Seng Hong Kong hari ini kembali dibuka, setelah pada Selasa (13/10/2020) ditutup sepanjang hari karena adanya peringatan badai "Nangka".

Bursa Asia dibuka di zona merah mengikuti bursa saham acuan global, Wall Street yang ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (13/10/2020) waktu AS.

Beralih ke bursa saham AS, Wall Street, tiga indeks utama ditutup melemah. Dow Jones Industrial Average (DJIA) terkoreksi 0,55%, S&P 500 turun 0,63%, dan Nasdaq Composite berkurang 0,1%.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Wall Street terpeleset. Pertama, bursa saham New York memang sudah menguat tajam. Sejak akhir bulan lalu, DJIA melesat 3,23%, S&P 500 melonjak 4,44%, dan Nasdaq meroket 6,29%.

Keuntungan yang didapat investor sudah lumayan tebal, dan pasti akan ada godaan untuk mencairkannya. Tekanan jual akibat profit taking ini membuat Wall Street merah.

Kedua, kabar yang tidak baik seputar pengembangan vaksin anti-virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Uji coba vaksin buatan Johnson & Johnson dihentikan sementara karena ada laporan salah satu relawan merasakan efek samping.

"Butuh beberapa hari untuk mengumpulkan informasi dan melakukan evaluasi," kata Mathai Mammen, Kepala Riset dan Pengembangan Johnson & Johnson, seperti dikutip dari Reuters.

Tiga, pembahasan stimulus fiskal di AS lagi-lagi mentok. Nancy Pelosi, Ketua House of Representatives (salah satu dari dua kamar yang membentuk Kongres AS), menolak proposal stimulus dari pemerintah yang bernilai US$ 1,8 triliun. Jumlah yang memang lebih rendah ketimbang usulan Partai Demokrat yaitu US$ 2,2 triliun.

"(Nilai stimulus) sangat kurang untuk mengatasi kebutuhan penanganan pandemi dan resesi yang begitu dalam," tegas Pelosi, seperti diberitakan Reuters.

Namun, koreksi di Wall Street bisa diredam karena rilis laporan keuangan emiten perbankan yang impresif.

Pada kuartal III-2020, laba JPMorgan Chase & Co naik 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY) menjadi US$ 9,4 miliar.

Ini berarti laba per saham (Earnings per Share/EPS) adalah US$ 2,92, lebih tinggi dibandingkan konsensus pasar yang dihimpun Reuters dengan proyeksi US$ 2,23.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sambut Happy Weekend, Bursa Asia Ijo Royo-royo Gaes!


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading