Gokil! Cuan Sederet Saham Ini Bisa Sampai 250% saat IHSG Loyo

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
29 September 2020 17:10
Pengunjung melintas di depan layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Kamis, 12 Maret 2020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5,01% ke 4.895,75. Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara (trading halt) setelah  Harga tersebut ke 4.895,75 terjadi pada pukul 15.33 WIB.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama 3 bulan terakhir IHSG memang terkoreksi cukup parah yakni 1,72% akan tetapi di tengah koreksi IHSG yang cukup dalam ini ternyata berberapa saham mampu melesat hingga ratusan persen.

Dapat dilihat kenaikan IHSG selama 3 bulan terakhir dipimpin oleh saham PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY) yang berhasil melesat hingga 256% ke level harga Rp 296/unit sehingga disuspensi perdaganganya oleh bursa.


Secara valuasi juga saham-saham yang masuk top gainers selama 3 bulan terakhir juga tergolong sudah masuk kategori mahal. Catat saja valuasi PER yakni rasio harga pasar dengan pendapatan perusahaan yang bergerak di sektor energi terbaharukan ini berada di angka 26 kali. PER saham perusahaan ini relatif sudah tinggi dibandingkan PER industri energi yang hanya berada di kisaran 8 kali dikutip dari Refinitiv.

Emiten lain seperti PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) bahkan memiliki PER di atas 100 kali yakni masing-masing 170 kali dan 153 kali lagi-lagi lebih mahal dari industri farmasi di angka 13,3 kali.

Bahkan untuk emiten anak usaha Bio Farma yakni PT Indofarma Tbk (INAF) masih belum mampu membukukan laba bersih pada tahun 2020 ini.

Untuk rasio nilai buku terhadap harga sahamnya alias PBV, tercatat PBV INAF-lah yang paling tinggi di angka 18 kali jauh lebih mahal daripada rata-rata industri farmasi di angka 1,9 kali.

Sedangkan PBV PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS) dan sister company-nya AGRO masih berada di kategori wajar yakni 1,38 kali dan 1,56 kali meskipun masih tergolong mahal karena industri perbankan rata-rata hanya memiliki PBV sebesar 0,9 kali karena harga rata-rata saham perbankan masih terkoreksi pasca terserang pandemi virus corona. BRIS dan AGRO sendiri sudah pulih dari virus corona yang ditunjukkan oleh harga sahamnya secara tahun berjalan (YTD) yang sudah naik masing-masing 124,24% dan 54,55%

Sehingga secara umum melesatnya harga saham yang menjadi top gainers ini tidak dicerminkan dari fundamental perusahaan karena valuasi perusahaan yang tergolong mahal.

Sebenarnya melesatnya saham duo anak usaha Bio Farma terjadi akibat sentimen Bio Farma yang berkerja sama dengan Sinovac dalam melakukan uji coba vaksinya di Indonesia.

Sedangkan untuk kedua anak usaha Bank BRI yakni BRIS dan AGRO berhasil terbang setelah sebelumnya dikabarkan muncul wacana penggabungan bank-bank BUMN syariah oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

"Kita coba sedang kaji bank-bank syariah kita ini nanti semua kita coba merger-in. Insya Allah Februari tahun depan jadi satu. Bank Syariah Mandiri, BNI, dan BRI," ujar Mantan Pemilik klub bola Inter Milan dalam sesi webinar Kingdom Business Community, Kamis (2/7/2020).

Alasan peleburan ini sendiri karena potensi bank syariah di Indonesia sangat besar, lantaran mayoritas penduduknya Muslim.

"Lalu kenapa saya menginginkan merger syariah, karena Indonesia yang penduduk muslim terbesar tidak punya fasilitas itu. Nah, kalau syariah di-merger ia bisa menjadi top bank yang menjadi alternatif pilihan," tutur Erick.

"Dia bisa jadi top eight bank yang menjadi alternatif pilihan, karena yang namanya funding terbuka. Hal yang kita coba lakukan segmentasi, yang ada di Himbara juga supaya tidak kanibal dan supaya memperkaya marketnya."

Sedangkan harga AGRO juga berhasil melesat karena efek buyback saham yang sudah dan akan dilakukan oleh perusahaan.

Sebelumnya, manajemen perseroan mengungkapkan akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham di pasar sekunder seiring dengan kondisi pasar yang berfluktuasi tajam dan berpengaruh ke harga saham perusahaan.

Direktur Utama Bank BRI Agroniaga Ebeneser Girsang mengatakan perseroan akan melakukan buyback saham yang direncanakan sebanyak-banyaknya Rp 2,5 miliar.

"Buyback ini dilakukan secara bertahap dalam periode 3 Juli sampai dengan 2 Oktober 2020," katanya, Senin (6/7/2020).

Sesuai dengan Surat Edaran OJK Nomor 3/SEOJK.04/2020, jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak melebihi 20% dari jumlah modal disetor dengan ketentuan paling sedikit saham beredar adalah 7,5%.

"Perseroan telah menunjuk Danareksa Sekuritas untuk bertindak sebagai Perantara Pedagang Efek dalam rangka melakukan pembelian kembali saham perusahaan.


[Gambas:Video CNBC]

(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading