Bursa Asia Mayoritas Hijau, Sayang Hong Kong & China Merah

Market - Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
25 September 2020 17:30
People walk past an electronic stock board showing Japan's Nikkei 225 index at a securities firm in Tokyo Wednesday, July 10, 2019. Asian shares were mostly higher Wednesday in cautious trading ahead of closely watched congressional testimony by the U.S. Federal Reserve chairman. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham di kawasan Asia pada perdagangan akhir pekan ini (25/9/2020) ditutup di zona hijau. Namun indeks di Hong Kong dan Shanghai ditutup di zona merah.

Tercatat, indeks Nikkei Jepang menguat 0,51% Hang Seng Hong Kong melemah 0,32%, disusul indeks Shanghai di China yang turun 0,12%, STI Singapura terapresiasi 0,88% dan KOSPI Korea Selatan yang terpantau naik 0,27%.

Sedangkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini ditutup menguat 2,13% di level 4.945,79, setelah selama 4 hari berturut-turut, IHSG ditutup di zona merah.


Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 555 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 7,3 triliun.

Katalis (sentimen) positif yang datang membuat bursa saham Asia berakhir di zona hijau pada perdagangan akhir pekan ini. Seperti rilis data ekonomi di Amerika Serikat (AS).

Tercatat data klaim tunjangan pengangguran dilaporkan sebanyak 870 ribu orang dalam sepekan yang berakhir 19 September, lebih banyak dari estimasi Dow Jones 850 ribu klaim.

Sementara itu penjualan rumah baru dilaporkan lebih dari 1 juta unit di bulan Agustus, lebih banyak dari estimasi ekonom yang disurvei Dow Jones sebanyak 898 ribu unit.

Data yang bervariasi tersebut turut memicu pergerakan liar Wall Street kemarin.

"Investor memperhatikan seperti apa pemulihan ekonomi dalam beberapa bulan ke depan. Beberapa bagian ekonomi bekerja dengan baik, tetapi beberapa sektor juga kembali melambat," kata Megan Horneman, direktur strategi portofolio di Verdence Capital Advisors, sebagaimana dilansir CNBC International.

Selain itu, stimulus fiskal yang dinanti-nanti juga tak kunjung ada titik terang. Partai Demokrat dilaporkan akan menyiapkan paket stimulus senilai US$ 2,4 triliun dan akan di-voting pada pekan depan.

Tetapi nilai tersebut jauh lebih besar ketimbang nilai yang akan disetujui Partai Republik dan pemerintah AS. Sehingga ada kemungkinan stimulus kembali mandek.

Tanpa stimulus fiskal, Goldman Sachs kini memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS sebesar 3% di kuartal IV-2020, turun dari proyeksi sebelumnya sebesar 6%.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Sambut Happy Weekend, Bursa Asia Ijo Royo-royo Gaes!


(chd/chd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading