Ekspor Melonjak, Tapi Kurs Dolar Singapura Malah Jeblok

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
17 September 2020 11:34
FILE PHOTO: A Singapore dollar note is seen in this illustration photo May 31, 2017.     REUTERS/Thomas White/Illustration/File Photo Foto: Dollar Singapur (REUTERS/Thomas White)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Singapura melemah melawan rupiah pada perdagangan Kamis (17/9/2020), padahal ekspor Negeri Merlion dilaporkan melesat di bulan Agustus.

Pada pukul 11:05 WIB, SG$ 1 setara Rp 10.857,6, dolar Singapura melemah 0,5% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Data dari pemerintah Singapura hari ini menunjukkan ekspor non-minyak naik 10,5% month-on-month (MoM) di bulan Agustus. Kenaikan tersebut jauh lebih tinggi dari konsensus Trading Economics 0,9% MoM. Sementara secara tahunan atau year-on-year (YoY) ekspor non-minyak naik 7,7% lebih tinggi dari konsensus 3,7%.


Ekspor ke China dan Eropa mencatat kenaikan yang tinggi, mengalahkan penurunan ekspor ke AS dan Jepang. Hal tersebut menunjukkan pemulihan ekonomi China dan Eropa lebih cepat ketimbang di AS dan Jepang.

Ekspor menjadi krusial bagi Singapura, sebab sangat berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi.

Pada 2019, rasio ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura adalah 104,91%. Singapura menjadi negara dengan rasio ekspor terhadap PDB terbesar di dunia.

Bahkan dengan rasio yang sangat tinggi itu sebenarnya sudah turun. Sudah jauh dibandingkan posisi puncak pada 2006 yang mencapai 183,8%.

Ketika ekspor merosot, maka PDB pun berkontraksi, akibatnya Singapura mengalami resesi di kuartal II-2020 lalu. Data dari Pemerintah Singapura menunjukkan di kuartal II-2020 lalu, PBD mengalami kontraksi 12,6% YoY, sementara di kuartal I-2020 minus 0,3% YoY, sehingga sah mengalami resesi.
Meski ekspor Singapura memberikan angina segar ke perekonomian, tetapi masih belum sanggup mendorong penguatan dolarnya. Rupiah hari ini cukup perkasa jelang pengumuman kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Konsensus yang dihimpun oleh CNBC Indonesia memperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga acuannya di angka 4%. 

BI memandang cara memulihkan perekonomian adalah melalui jalur pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE).

Hal ini diungkapkan langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo. Dengan QE, BI menyuntikkan likuiditas ke pasar melalui penurunan Giro Wajib Minimun (GWM) maupun ekspansi moneter. Hingga 14 Agustus, BI telah memberikan QE sebesar Rp 651,54 triliun.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading