Duh! Stok AS Berlimpah, Harga Minyak Jeblok Lagi

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
17 September 2020 10:12
FILE PHOTO: Saudi Aramco's Ras Tanura oil refinery and oil terminal in Saudi Arabia, May 21, 2018. REUTERS/Ahmed Jadallah/File Photo Foto: File Photo: Saudi Aramco (REUTERS/Ahmed Jadallah/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada penutupan perdagangan kemarin harga minyak mentah untuk kontrak yang aktif ditransaksikan menguat ke atas US$ 40/barel. Namun pagi ini Kamis (17/9/2020), harga emas hitam itu berbalik arah.

Pada 09.25 WIB harga minyak berjangka Brent turun 0,59% ke US$ 41,97/barel sementara untuk minyak berjangka acuan Negeri Paman Sam yakni West Texas Intermediate (WTI) anjlok 0,72% ke US$ 39,87/barel.


Penurunan harga minyak akibat adanya kenaikan stok minyak di AS. Badan Informasi Energi (EIA) AS melaporkan stok minyak mentah dan bensin mengalami penurunan masing-masing 4,4 juta barel dan 0,38 juta barel.

Berbeda dengan stok minyak mentah dan bensin yang turun, persediaan minyak distilat AS justru mengalami kenaikan sebesar 3,46 juta barel. Faktor ini lah yang menjadi penekan harga emas hitam tersebut.

"Permintaan [minyak] distilat ... adalah titik perhatian utama," kata analis komoditas Commonwealth Bank Vivek Dhar dalam sebuah catatan, mengutip Reuters.

Stok minyak tersebut telah melonjak ke level tertinggi untuk tahun ini setidaknya sejak 1991, dan margin penyulingan AS untuk memproduksi distilat adalah yang terendah dalam 10 tahun, kata Dhar.

"Itu adalah disinsentif yang kuat bagi penyulingan untuk meningkatkan aktivitas dan secara langsung menandakan tekanan permintaan yang dihadapi serangkaian produk minyak," katanya.

Reuters melaporkan dari sisi pasokan, perusahaan energi mulai mengembalikan awaknya ke anjungan minyak lepas pantai di Teluk Meksiko setelah Badai Sally melanda. Hampir 500.000 barel per hari (bpd) produksi minyak lepas pantai Teluk Meksiko AS ditutup menjelang badai terbaru yang melanda wilayah tersebut.

Panel Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya yang dikenal sebagai OPEC+ akan menggelar pertemuan pada Kamis untuk meninjau kondisi pasar.

Namun mereka tidak mungkin merekomendasikan pemotongan produksi minyak lebih lanjut meskipun terjadi penurunan harga baru-baru ini, menurut pengakuan seorang sumber kepada Reuters. 

OPEC+ setuju pada Juli untuk memangkas produksi 7,7 juta bpd, atau sekitar 8%, dari permintaan global dari Agustus hingga Desember. Irak dan negara-negara lain setuju untuk memangkas produksi lebih dalam di bawah kuota mereka pada bulan September untuk mengkompensasi kelebihan produksi awal tahun ini.

Kembali meningkatnya jumlah kasus Covid-19 di banyak negara yang dibarengi dengan upaya lockdown lokal, work from home hingga penurunan kinerja industri aviasi membuat Badan Energi Internasional (IEA) merevisi turun permintaan minyak global pada kuartal ketiga dan keempat tahun ini masing-masing sebesar 0,1 juta barel per hari (bpd) dan 0,6 juta bpd.

Dalam laporan terbarunya yang dirilis bulan ini, IEA memperkirakan permintaan minyak mentah global akan turun 8,4 juta bpd dan baru akan naik tahun depan sebesar 5,5 juta bpd. Hal ini sedikit berbeda dengan perkiraan OPEC yang memprediksi permintaan emas hitam bakal turun 9,46 juta bpd tahun ini dan naik 7 juta bpd tahun depan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading