Analisis Teknikal

Sentimen Positif Berlimpah, Rupiah Harusnya Bisa Perkasa

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 September 2020 08:05
ilustrasi uang Foto: CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah berakhir stagnan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (14/9/2020). Dengan demikian, rupiah sudah tidak menguat dalam 5 hari perdagangan terakhir, dengan catatan 4 hari melemah plus menjadi yang terburuk di Asia, dan sekali stagnan kemarin. 

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Minggu kemarin akhirnya resmi mengumumkan PSBB akan di mulai hari ini, Senin (14/9/2020) tetapi ternyata tidak seperti yang ditakutkan pelaku pasar.

Meski PSBB kali ini tidak seketat bulan April, tetapi tetap saja investor, khususnya asing menanti dampak PSBB kali ini, mengingat saat saat PSBB transisi yang lebih longgar diterapkan, perekonomian Indonesia diprediksi tak mampu lepas dari jeratan resesi, apalagi dengan PSBB yang lebih ketat.


Meski berakhir stagnan, tetapi rupiah kemarin sempat melemah hingga 0,47% ke Rp 14.930/US$.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan, faktor utama yang membuat rupiah melemah adalah dilepasnya surat utang pemerintah oleh investor asing.

"Karena masih banyak penjualan bond oleh investor asing," ujar Nanang kepada CNBC Indonesia, Senin (14/9/2020).

Sementara pada hari ini, Selasa (15/9/2020), rupiah punya peluang untuk menguat melihat sentimen pelaku pasar yang membaik. Hal tersebut tercermin dari penguatan bursa saham AS (Wall Street) dan bursa utama Asia yang sudah dibuka pagi ini. Perkembangan terbaru vaksin virus corona menjadi pemicu membaiknya sentimen pelaku pasar.

AstraZeneca yang sebelumnya menghentikan uji klinis fase ketiga vaksin corona menyatakan akan kembali memulai uji klinis di Inggris. Kemudian Pfizer menyebut bisa menyajikan data hasil uji klinis kepada regulator pada akhir Oktober.

Selain itu, indeks dolar AS yang kembali menurun juga membuka peluang penguatan rupiah.



Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR masih berada di atas US$ 14.730/US$, yang sebenarnya memberikan tertekan.

Level US$ 14.730/US$ merupakan Fibonnaci Retracement 61,8%. Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13.565/US$) lalu, hingga ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16.620/US$).

Tetapi kabar baiknya, pada Jumat (11/9/2020) lalu, rupiah membentuk pola Shooting Star. Dilihat pada grafik candle stick harian, badannya (body) kecil di bagian bawah, sementara ekornya (tail) panjang ke atas. Pola tersebut disebut Shooting Star, dan kerap dijadikan sinyal pembalikan arah atau USD/IDR akan bergerak turun, dengan kata lain rupiah berpeluang menguat.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Secara psikologis, pola shooting star menunjukkan aksi jual dolar berusaha mendominasi pasar.

Sementara itu indikator stochastic kini sudah mencapai wilayah jenuh beli (overbought).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Stochastic yang mencapai overbought memperbesar peluang penguatan rupiah.

Support terdekat berada di kisaran Rp 14.830/US$, jika berhasil ditembus rupiah berpeluang menguat ke Rp 14.790/US$.

Penembusan ke bawah Rp 14.790/US$ akan membuka jalan rupiah menguat menuju support Rp 14.730/US$.

Sementara itu, resisten terdekat berada di Rp 14.900/US$. Jika resisten tersebut dilewati, rupiah berisiko menguji kembali Rp 14.930/US$. Resisten selanjutnya berada di level Rp 14.960/US$. 

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading