Merah Membara, Bursa Saham Asia Tersengat Wall Street

Market - , CNBC Indonesia
09 September 2020 08:48
An employees of a foreign exchange trading company works next to monitors displaying Japanese yen's exchange rate against the U.S. dollar, Euro and broadcasting a meeting between U.S. President Donald Trump and North Korean leader Kim Jong Un during their second North Korea-U.S. summit in Hanoi, in Tokyo, Japan February 28, 2019.  REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Asia pada pagi hari ini kompak dibuka di zona merah seiring dengan penutupan Bursa Wall Street yang kembali melemah pada perdagangan kemarin.

Tercatat indeks Nikkei di Jepang dibuka melemah 1,49% , Hang Seng Index di Hong Kong turun 1,34%, Shanghai di China terjatuh 1,07%, Indeks STI di Singapura jatuh 0,78% dan Kospi Korea Selatan turun 0,91%.

Hari ini, China merilis data indeks harga konsumen (IHK) Agustus 2020. Diperkirakan, IHK China pada Agustus secara month-to-month (MtM) diangka 0,4, turun dari bulan Juli di angka  0,6.


Sedangkan secara year-on-year (YoY), IHK China diperkirakan berada di angka 2,4, turun dari bulan Agustus tahun sebelumnya di angka 2,7.

Dari Bursa Amerika Serikat, pada penutupan perdagangan kemarin, Bursa Wall Street mengalami pelemahan. Dow Jones Industrial Average turun 2,3% atau sekitar 630 poin dan ditutup pada 27.500,89. Sementara S&P 500 berbasis luas merosot 2,8% menjadi 3.331,84.

Sedangkan Nasdaq yang kaya teknologi merosot 4,1% menjadi 10.847,69. Nasdaq telah turun 10% dalam tiga sesi terakhir setelah mencapai yang terakhir dalam serangkaian rekor pada 2 September.

Kepala investasi di Cresset Capital, Jack Ablin, mengatakan sesi kemarin menandai pergeseran dari dinamika akhir pekan lalu di mana penjualan jauh melampaui saham-saham teknologi.

"Investor tidak hanya memindahkan 'kursi' mereka," kata Ablin dikutip dari AFP. "Mereka khawatir tentang pemulihan yang tidak kuat."

Tidak seperti pekan lalu, imbal hasil Treasury AS juga turun kemarin. Hal senada juga terjadi pada minyak turun tajam, indikator kekhawatiran meningkat, kata Ablin.

"Ini kisah perlambatan ekonomi," katanya.

Analis mengutip meningkatnya ketegangan AS-China sebagai alasan. Presiden AS Donald Trump menyebut akan melakukan decouple (pemutusan hubungan) jika terpilih lagi.

China pun sudah mengambil ancang-ancang. Aturan baru dibuat untuk memutus perusahaan teknologi dengan AS.

Selain itu, kebuntuan di Washington atas putaran lain pendanaan stimulus jadi sebab lain. Meski data ekonomi seperti pekerjaan yang terbit minggu lalu melampaui ekspektasi, hal ini tak bisa membuat Wall Street ke zona hijau.

Perusahaan teknologi besar seperti Apple dan Amazon kembali mengalami penurunan yang dalam. Namun Tesla paling anjlok hingga 21,1%.

Saham Boeing juga turun 5,8% setelah mengungkapkan lebih banyak masalah dengan jet 787 Dreamliner. Perusahaan pembuat pesawat itu akan menunda pengiriman pesawat.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading