Dipimpin AISA, Ini Dia 5 Saham Paling Tokcer Kemarin!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
04 September 2020 07:10
Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis kemarin (3/9/20) ditutup anjlok 0,59% di level 5.280,81. Padahal indeks acuan utama Bursa Efek Indonesia (BEI) ini sempat menyentuh level harian tertinggi yakni 5.331.

Kenaikan IHSG di akhir-akhir perdagangan sesi II ternyata berhasil menyelamatkan IHSG dari kejatuhan yang lebih dalam, karena IHSG sempat anjlok 1,3%. Tercatat 137 saham naik, 306 saham ambles dan 148 saham stagnan.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 787 miliar di pasar reguler dengan nilai transaksi menyentuh Rp 8,5 triliun.

Saham yang paling banyak dilego asing adalah PT Astra Internasional Tbk (ASII) dengan jual bersih sebesar Rp 107 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 226 miliar.

Sementara itu saham yang paling banyak dikoleksi asing adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan beli bersih sebesar Rp 32 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net buy sebesar Rp 79 miliar.

Total jual bersih asing pada perdagangan Kamis kemarin mencapai Rp 787,50 miliar di pasar reguler.

5 Saham Top Gainers, 3 September 2020

1. PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA)

Harga saham emiten konsumer ini menguat signifikan pada perdagangan Kamis (3/9/2020) setelah 3 hari beruntun sahamnya terjerembab. Saham AISA melesat 34,31% di level Rp 184/saham. Nilai transaksi perdagangan saham AISA mencapai Rp 78,6 miliar dan volume perdagangan 484,7 juta saham. Nilai kapitalisasi pasar saham produsen makanan ringan Taro ini mencapai Rp 880,90 miliar.

Dalam 4 hari perdagangan terakhir saham AISA melesat 34,31% setelah suspensi sahamnya dibuka pada Senin, 31 Agustus 2020.

2. PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI)

Saham perusahaan naik 18,18% di level Rp 130/saham dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 723,63 miliar. Nilai transaksi perdaganganFPNI sebesar Rp 16,66 miliar dengan volume perdagangan 129,59 juta saham. Dalam sebulan terakhir perdagangan akumulatif, saham perusahaan naik 46,07%. Perusahaan petrokimia ini didirikan dengan nama PT Indofatra Plastik Industri di tahun 1987.

3. PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN)

Saham emiten multifinance yang masuk Grup Panin ini naik 14,44% di level Rp 214/saham dengan nilai transaksi 10,1 miliar dan volume perdagangan 49,9 juta saham. Sebulan terakhir secara akumulatif saham CFIN sudah naik 14.44%. Clipan Finance pertama kali didirikan dengan nama PT Clipan Leasing Corporation pada 15 Januari 1982.

4. PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC)

Saham emiten pengolah plastik ini 11,03% di level Rp 322/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 1,06 triliun. Nilai transaksi Rp 8,95 miliar dan volume perdagangan 28,21 juta saham. Sebulan terakhir, secara akumulatif sahamnya naik 38%. Tahun lalu EPAC membukukan penjualan sebesar Rp 200,54 miliar, turun 3,89% dari tahun 2018 Rp 208,66 miliar. Laba bersih naik 106,5% dari Rp 1,23 miliar menjadi Rp 2,54 miliar pada tahun 2019.

5. PT Cardig Aero Services Tbk (CASS)

Saham emiten jasa penunjang transportasi udara ini naik 10,09% di level Rp 240/saham dengan nilai transaksi Rp 7,89 miliar dengan volume perdagangan 33,37 juta saham. Sebulan terakhir perdagangan akumulatif, saham CASS naik 15.38%.

Salah satu sentimen positif bagi CASS adalah konsorsium Cardig Aero dan Changi Airports International Pte Ltd (CAI) menyiapkan anggaran belanja modal sebesar Rp 1,2 triliun untuk membiayai pembangunan dan pengembangan Bandar Udara Komodo.

Masuknya konsorsium Cardig dan Changi sebagai bagian untuk menopang lima destinasi baru di Indonesia.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi pada akhir tahun lalu, mengatakan investasi yang dibutuhkan dalam skema KPBU (kerja sama pemerintah dan badan usaha) Bandara Komodo ini memerlukan Rp 5,7 triliun untuk belanja operasional untuk selama 25 tahun, Rp 1,2 triliun investasi 5 tahun untuk pengembangan bandara.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jangan Kelewat! Cek Dulu 10 Saham Paling Cuan 2020


(tas/tas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading