Punya Simpanan Emas? Ini Prediksi Analis ke Depan

Market - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
26 August 2020 19:02
FILE PHOTO: Gold bullions are displayed at GoldSilver Central's office in Singapore June 19, 2017. Picture taken June 19, 2017.  REUTERS/Edgar Su/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Head of Trading, Treasury and Markets, PT Bank DBS Indonesia, Ronny Setiawan menyebut investasi dalam bentuk emas harus sangat berhati-hati.

"Emas agak tricky. Soalnya bit offer tidak jelas, kadang tergantung toko," ujarnya saat DBS eTalk Series "Finding Opportunities Amidst Ongoing Economic Recovery and Sustainable Consumerism" di Jakarta, Rabu (26/8/2020).

Dia mencontohkan, setelah krisis ekonomi 2008 selesai dan berangsur pulih, harga emas mulai turun perlahan. Bahkan pada tahun 2013 tercatat sempat minus 9%.


"Terakhir ada peak (puncak) di emas 2019 dan 2020. Tapi kalau lihat 2013 ada minus 9. Terus 2014, 2015 ada flat," imbuhnya.


Adapun cara lain menyimpan uang selain emas adalah dalam bentuk rupiah. Menurutnya, menyimpan uang dalam bentuk rupiah dinilai baik dan masih bisa menjadi pertimbangan. Namun bagi yang memiliki dolar namun tidak ingin menyimpan dalam bentuk rupiah bisa dialihkan ketiga mata uang.

"Ke Yuan, Euro, dan Australian dollar. Kenapa? China masih perform, euro akan menikmati itu. Kalau China dan Amerika berantem akan ke Eropa. Australian dollar, kalau emas naik akan larinya ke Australian dollar," tegasnya.

Kembali ke mata uang rupiah yang menurutnya lebih menarik, untuk simpanan dalam bentuk dolar tak akan ada bunga yang diperoleh alias nol persen. Namun sebaliknya jika menyimpan mata uang dalam bentuk rupiah.

"Tapi kalau di rupiah bisa deposito, 7%. Average 10 tahun 3,98%. Jadi kita lihat, rupiah 3,98% interest 6-7% long term masih better pegang rupiah," tegasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading