Tenang, Sinyal Emas Bakal Meroket Sudah Keliatan, Siap-siap!

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 August 2020 06:16
Isaac Levy, owner of Israeli jewelry company Yvel looks at a worker and parts of a mask in Motza near Jerusalem, Sunday, Aug. 9, 2020. An Israeli jewelry company is working on what it says will be the world's most expensive coronavirus mask, a gold, diamond-encrusted face covering with a price tag of $1. 5 million. (AP Photo/Sebastian Scheiner)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas perlahan mulai menanjak lagi sejak Rabu lalu setelah ambrol lebih dari 5% pada Selasa (11/8/2020). Pada perdagangan Kamis kemarin (13/8/2020), pukul 16:43 WIB, harga emas diperdagangkan di kisaran US$ 1.930,64/troy ons, menguat 0,6% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Di saat yang sama, indeks dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu juga menurun.


Data Refinitiv menunjukkan indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini berada di level 93,155, melemah 0,31%. Rabu, indeks dolar AS melemah 0,2% sementara emas menguat 0,34%.

Pembahasan stimulus fiskal yang kembali macet di Kongres (Parlemen) AS, menjadi penyebab kembali melemahnya indeks dolar AS.

Tanpa stimulus tambahan, pemulihan ekonomi AS tentunya akan berjalan lebih lambat. Kubu Partai Republik di House of Representatives (salah satu dari dua kamar yang membentuk Kongres AS) mengusulkan proposal stimulus baru bernilai US$ 1 triliun. Namun kubu oposisi Partai Demokrat enggan menyetujui karena merasa jumlahnya terlalu sedikit.

Steven Mnuchin, Menteri Keuangan AS, mengungkapkan bahwa Demokrat baru ingin membuka ruang dialog jika nilai stimulus fiskal setidaknya US$ 2 triliun. Presiden Donald Trump berang.

"Dolar AS membutuhkan kabar positif dari pembahasan stimulus. Pasti akan ada kesepakatan, karena para politikus tidak mungkin kembali ke konstituen mereka dengan tangan hampa. Ketika itu terjadi, maka dolar AS akan punya momentum untuk menguat terhadap mata uang lain," jelas Masafumi Yamamoto, Chief Currency Strategist di Mizuho Securities yang berbasis di Tokyo, seperti dikutip dari Reuters.

Kemerosotan indeks dolar merupakan salah satu "bahan bakar" emas melaju kencang di tahun ini. Bahkan, pada pekan lalu ketika emas memecahkan rekor tertinggi, pemicu utamanya adalah indeks dolar yang merosot ke level terendah dalam lebih dari 2 tahun terakhir.

Dengan kembali merosotnya indeks dolar, apakah emas akan menapaki jalan menuju rekor lagi?

Carsten Fritsch, analis dari Commerzbank sebagaimana dikutip Kitco, mengatakan koreksi tajam pada emas yang selama ini dinanti akhirnya dimulai, tetapi jangan gentar karena reli harga emas dunia akan kembali berlanjut katanya.

Rebound emas memang sudah mulai terlihat sejak kemarin, tetapi analis lainnya melihat volatilitas emas masih akan tinggi ke depannya.

"Emas berada dalam posisi yang belum pernah dicapai sebelumnya, penurunan tajam kemarin menunjukkan volatilitas harga emas kemungkinan masih akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan," kata Vivek Dhar, analis komoditas pertambangan dan energi dari Commonwealth Bank of Australia dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC International.

Volatilitas tinggi artinya harga emas dunia kemungkinan masih akan merosot tajam, tetapi tidak menutup kemungkinan kembali melesat.

Sejauh ini, memang belum ada perubahan proyeksi dari para analis, harga emas dunia diramal masih akan terus menguat.

Barry Dawes, dari Martin Place Securities, memproyeksikan dalam dua tahun ke depan harga emas disebut akan mencapai US$ 3.500/troy ons.

Ole Hansen, Kepala Ahli Strategi Komoditas di Saxo Bank, memprediksi emas akan mencetak rekor tertinggi pada tahun depan, dan jangka panjang emas akan mencapai US$ 4.000/troy ons.

Analis lainnya, Jurge Kiener dari Swiss Asia Capital bahkan lebih bullish lagi. Secara teknikal ia melihat ada peluang emas mencapai US$ 8.000/troy ons. Sementara Dan Olivier, pendiri Myrmikan Capital, yang memprediksi emas akan mencapai US$ 10.000/troy ons. Meski tidak disebutkan kapan emas akan mencapai level yang saat ini terlihat ekstrem tersebut.

Melihat perkembangan belakangan ini, penguatan emas sepertinya akan melewati jalur yang terjal setelah muncul tanda-tanda kebangkitan ekonomi AS, dan perkembangan vaksin terbaru.

Semakin banyak tanda kebangkitan ekonomi AS maka laju emas untuk terus naik akan semakin berat. Apalagi jika sampai vaksin virus corona benar-benar ditemukan maka akan menjadi game changer, bukannya beli, trader dan investor kemungkinan akan jual emas.

Yung-yu Ma, kepala strategi investasi di BMO Wealth Management, mengatakan ada 2 faktor yang membuat emas akan berubah arah, yakni vaksin dan Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden AS pada bulan November.

Efek Pemilu dikatakan tergantung bagaimana hasilnya, sementara Jika ada perkembangan positif dari vaksin virus corona, ia melihat emas akan turun hingga ke US$ 1.600/troy ons setelah Pemilu AS. Tetapi ia juga mengatakan emas akan kembali rally di tahun depan.

Emas Antam

Dari dalam negeri, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk atau yang biasa disebut emas Antam menguat pada Kamis (13/6/2020), setelah turun tajam pada perdagangan Rabu. Meski menguat, badai bagi harga logam mulia masih belum berlalu.

Berdasarkan data dari situs resmi logammulia.com, emas batangan 1 gram Kamis kemarin dibanderol Rp 1.028.000/batang, naik Rp 2.000 atau 0,19% dari Rabu kemarin yang merosot Rp 30.000.

Sementara itu emas batangan 100 gram yang biasa menjadi acuan dihargai Rp 97.012.000/batang atau Rp 970.120/gram naik Rp 0,21% dari Rabu.

Penguatan harga emas Antam mengikuti harga emas dunia yang berhasil rebound setelah ambrol pada perdagangan Selasa lalu.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas dunia menguat 0,31% pada Rabu, sementara sehari sebelumnya ambrol 5,72% yang turut membuat harga emas Antam merosot Rp 30.000.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading