Erick Mau Merger Pelindo, Rencana IPO Anak Usaha Batal

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
24 July 2020 16:08
Suasana bongkar muat peti kemas di Kompleks PT Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa,  (08/05). PT Pelindo II (Persero)/IPC terus mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi dan melakukan modernisasi infrastruktur dan suprastruktur pelabuhan,  sebagai upaya menekan biaya logistik di Tanah Air. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana untuk menggabungkan perusahaan pelabuhan pelat merah. Rencana ini disambut baik oleh operator pelabuhan ini, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/Pelindo II. 

Direktur Utama Pelindo II Arif Suhartono mengatakan merger perusahaan pelabuhan ini ditujukan untuk meningkatkan performa pelayaran di dalam negeri. Hal ini dapat dicapai dengan menyamaratakan standar seluruh pelabuhan yang ada sehingga port stay menjadi turun dan sailing time meningkat.

Dia mengatakan, selama ini pengembangan masing-masing pelabuhan terhambat karena dikelola oleh entitas berbeda. Sehingga ini berdampak pada pendanaan, resources, experience hingga sumber daya masing-masing perusahaan juga terbatas.


"Nah bagaimana akan lebih mudah, adalah dengan merger Pelindo I, II, III, IV. Dimerger di situ otomatis resources gabung dan masuk ke beberapa tempat jadi lebih mudah dan memperbaiki layanan fasilitas, yang pada akhirnya logistic cost, pelabuhan sizing, port stay di-reduce dan pada akhirnya logistic cost ditekan," kata Arif di Jakarta, Jumat (24/7/2020).

"Tapi dengan abis merger ada upside scale, meningkat performasi standar itu adalah nilai plusnya. Tapi tujuan utamanya adalah bantu logistic cost yang ada."

Saat ini rencana penggabungan ini masih dalam kajian oleh Kementerian BUMN dan masih dikomunikasikan dengan perusahaan-perusahaan pelat merah.

"Tapi ini [merger] sangat menarik untuk dilakukan," imbuh dia.

Anak Usaha Batal IPO

Dalam kesempatan yang sama, Arif juga mengungkapkan untuk membatalkan rencana penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) yang akan dilakukan oleh dua anak usahanya, yakni PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) dan PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK).

Rencana ini akan dikaji kembali satu hingga tiga tahun ke depan lantaran sejak tahun lalu kondisi market yang tak menentu sehingga dinilai bukan waktu yang tepat untuk melepas anak usahanya ke pasar.

"Tegas saya sampaikan PTL dan PTP saya hold karena situasi ga menentu. Jadi karena situasi ini setidaknya saya hold 1-3 tahun ke depan," katanya.

Sebelumnya, rencana IPO ini akan dilakukan di tahun ini setelah rencana tersebut juga diundur dari 2019.

Sebelumnya, pada Februari 2019 Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) disebutkan siap melakukan IPO pada Mei tahun 2019 dengan melepas kepemilikan 30%. PTP adalah operator terminal yang melayani bongkar muat curah cair, kering, dan kargo. PTP sudah memiliki lima cabang, yakni PTP Cabang Tanjung Priok, Banten, Pelabuhan Panjang, Bengkulu, dan Jambi.

Adapun IPC TPK sudah memiliki izin Badan Usaha Pelabuhan (BUP) dan mengelola terminal peti kemas di 5 pelabuhan, yaitu Pontianak, Pajang, Palembang, Teluk Bayur, dan Pelabuhan Jambi.

Selain itu, IPC TPK juga memiliki saham di PT New Priok Container Terminal One (NPCT1) sebesar 51,00%. NPCT1 merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang penanganan bongkar muat peti kemas dan berlokasi di Kali Baru, Tanjung Priok.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading