Meski Tipis, Harga Minyak Naik Akibat Kabar Baik Soal Vaksin

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
21 July 2020 10:05
FILE PHOTO: A maze of crude oil pipes and valves is pictured during a tour by the Department of Energy at the Strategic Petroleum Reserve in Freeport, Texas, U.S. June 9, 2016.  REUTERS/Richard Carson/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah ikut terangkat tipis pada perdagangan pagi ini Selasa (21/7/2020) akibat kabar baik yang datang dari perkembangan terbaru vaksin untuk virus corona (SARS-CoV-2).

Pada 09.25 WIB harga minyak mentah untuk kontrak yang ramai diperdagangkan jenis Brent naik 0,25% ke US$ 43,39/barel. Di saat yang sama, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS) yakni West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 0,15% ke US$ 40,87/barel.


Kabar terkait hasil uji klinis kandidat vaksin milik perusahaan farmasi yang bermarkas di Inggris AstraZeneca membuat harga aset-aset berisiko seperti saham terangkat.   

Dalam uji coba tahap pertama yang dilakukan ke 1.000 orang pasien menunjukkan dosis vaksin yang diberi nama ChAdOx1 nCov-19 berhasil meningkatkan respons imun pada pasien, menguatkan antibodi dan sel darah putih mereka dalam melawan virus.

"Respos imun yang muncul setelah vaksinasi dilakukan sejalan dengan ekspektasi kami imun ini dapat memberikan perlindungan terhadap virus SARS-CoV-2, meskipun selanjutnya kami harus melakukan uji klinis untuk mengkonfirmasi hal ini," ujar Andrew Pollard investigator Ujicoba Vaksin Oxford.

"Respons imun yang paling kuat ditunjukkan oleh pasien yang menerima 2 dosis vaksin tersebut yang mengindikasikan mungkin ini adalah strategi yang bagus untuk vaksinasi," tutupnya.

Data awal tersebut meningkatkan optimisme bahwa vaksin dapat segera diproduksi. Namun untuk membuat miliaran dosis vaksin sesuai dengan kebutuhan masih menjadi tantangan tersendiri.

China sebagai negara yang pertama kali terjangkit wabah, kini ekonominya semakinbergeliat. Di Cina, beberapa bioskop dibuka kembali pada hari Senin setelah dituutup enam bulan.

"Dengan pembukaan ekonomi di sebagian besar negara di dunia... permintaan minyak seharusnya naik, terlebih lagi jika vaksin segera tersedia," kata Fawad Razaqzada, analis pasar di ThinkMarkets.

Namun, negara-negara lain seperti AS hingga India masih mencatat rekor jumlah infeksi, sementara beberapa negara seperti Spanyol dan Australia masih terus memerangi wabah baru.

Data John Hopkins University CSSE menunjukkan lebih dari 14,6 juta orang telah dilaporkan terinfeksi oleh virus corona baru secara global dan 606.979 telah meninggal. 

Dinamika di pasar minyak masih terus menjadi sorotan. Pasalnya mulai Agustus nanti, Arab Saudi, Rusia dan koleganya akan memangkas produksi minyak sebanyak 7,7 juta barel per hari (bpd) hingga akhir tahun dari sebelumnya pada Mei-Juli sebanyak 9,7 juta bpd. 

Meskipun bakal ada kenaikan pasokan kurang lebih 2 juta bpd, tetapi secara neto kenaikannya lebih rendah dari itu, mengingat negara-negara dengan kepatuhan rendah bersedia memberikan kompensasi pemangkasan produksi lebih banyak untuk menutup kelebihan produksi pada periode sebelumnya.

Dari sisi permintaan, impor minyak Negeri Sakura bulan Juni turun 14,7% dari periode yang sama tahun lalu. Penurunan impor memang tidak sebanyak bulan lalu yang mencapai 25%. 

Jika kasus infeksi terus melonjak hingga membuat banyak negara kembali menerapkan lockdown maka permintaan terhadap bahan bakar akan kembali tertekan, apalagi OPEC+ mulai mengendorkan pemangkasan outputnya. 

Untuk pekan ini sentimen yang menggerakkan harga minyak adalah rilis data perminyakan AS oleh asosiasi industri (API) maupun lembaga resmi pemerintah (EIA) pada hari Rabu waktu setempat.

Mengacu pada data API, terjadi penurunan stok minyak mentah sebanyak 8,32 juta barel pada untuk sepekan yang berakhir pada 10 Juli. Sementara data EIA menunjukkan penurunan stok sebanyak 7,49 juta barel.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading