Cadangan Emas Terus Merosot, Ini Penjelasan dari Antam

Market - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
10 July 2020 13:23
Emas (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia- Holding Industri Pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Mining Industrial Indonesia (MIND ID) memproyeksikan cadangan emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terus menurun.

Menanggapi hal ini Senior Vice President Corporate Secretary Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko mengatakan sampai saat ini Antam masih berupaya menjaga kesinambungan terkait dengan jumlah cadangan dan sumber daya mineral yang dimiliki.

"Dengan mengedepankan operasi sesuai dengan prinsip-prinsip penambangan yang baik serta upaya-upaya eksplorasi guna memastikan kesetabilan operasi jangka panjang," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Jumat, (10/07/2020).


Lebih lanjut ia mengatakan produksi emas dari tambang emas Pongkor dan Cibaliung hingga saat ini masih di kisaran 2 ton emas per tahun. Guna memperkuat cadangan dan sumber daya mineral, hingga Mei 2020, Perusahaan melakukan kegiatan eksplorasi komoditas emas, nikel, dan bauksit, dengan total pengeluaran eksplorasi (unaudited) mencapai Rp 45 miliar.

Sementara itu untuk komoditas emas, Antam masih terus melakukan kegiatan eksplorasi di wilayah izin usaha pertambangan (IUP) perusahaan seperti di Pongkor dan Cibaliung. Serta tinjauan di beberapa daerah prospek dengan memperhatikan setiap kaidah sesuai dengan peraturan yang berlaku.

"Sementara itu, alokasi dana untuk mendukung kegiatan eksplorasi mineral emas, nikel dan bauksit Perusahaan dianggarkan lebih dari Rp 80 miliar pada tahun 2020," jelasnya.

Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan tahun ini MIND ID memproyeksikan laba sebesar Rp 2,1 triliun. Salah satu sumbangan laba berasal dari penjualan emas dari Antam.

"Antam untuk emas dalam dua-tiga tahun ini akan semakin berkurang reserve-nya," ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Komisi VII DPR RI, Selasa (30/6/2020).

Orias tidak menyebutkan besaran penurunan cadangan emas. Namun, dia mengingatkan perlunya eksplorasi serius antara Antam dengan perusahaan lainnya untuk mendongkrak cadangan emas tersebut.

Mengutip data CEIC, cadangan tambang emas nasional memang cenderung menurun dalam 10 tahun terakhir, yakni dari posisi 3.000 metrik ton pada tahun 2010, menjadi 2.600 metrik ton pada tahun lalu. Artinya, terjadi penurunan sebesar 13%.

Penurunan terutama terjadi dalam tiga tahun terakhir, sejak tahun 2017. Dengan berkurang sebesar 500 metrik ton pada tahun tersebut menyusul kenaikan permintaan emas di tengah tingginya harga logam mulia tersebut.

Pada tahun 2017, Antam mencatatkan penjualan emas sebesar Rp 7,4 triliun, atau meroket 33%. Emas menyumbang 59% dari total penjualan perseroan pada tahun tersebut senilai Rp 12,6 triliun.

Mengacu pada laporan tahunan perseroan per 31 Desember 2017, volume penjualan emas Antam saat itu menjadi 13.202 kilogram, naik dari volume penjualan setahun sebelumnya sebesar 10.227 kilogram.

Produksi emas Antam pada periode tersebut mencapai 1.967 kilogram yang berasal dari tambang Pongkor (Jawa Barat) dan Cibaliung (Banten), atau relatif tak berubah dari produksi 2016 sebesar 2.209 kilogram.

Setahun kemudian, kontribusi emas terhadap penjualan Antam meningkat menjadi 66%, menyusul lonjakan penjualan komoditas tersebut hingga 126% menjadi Rp 16,7 triliun, dan tahun lalu melesat lagi menjadi Rp 22,5 triliun.

Namun, impor emas Antam juga tercatat melonjak, yakni dari Rp 8,62 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 13,2 triliun. Nilai impor emas Antam setara dengan 58,7% dari penjualan emas Antam.

Dengan kata lain, lebih dari separuh emas yang dijual Antam di Tanah Air adalah emas impor dari YLG Bullion Singapore Pte Ltd, sebuah perusahaan di Singapura, negara yang tak memiliki bukit atau tambang emas.

Meski demikian, MIND ID masih memiliki tambang emas yang dikelola PT Freeport Indonesia. Tahun lalu, perseroan memproduksi 863.000 ounce emas, setara 24.465 kilogram, atau nyaris dua kali lipat dari volume penjualan emas Antam.

Tanpa ada temuan cadangan emas baru, dan tanpa kontribusi dari Freeport yang kini 51,2% sahamnya telah dimiliki MIND ID, maka besar peluang Antam masih harus mengimpor 80% komoditas emas dari Singapura, sehingga berujung pada nilai impor emas sekitar US$ 900 juta.

Harap dicatat, emas merupakan salah satu produk impor utama Indonesia yang menduduki posisi 15 besar dengan nilai sekitar US$ 1 miliar. Sebagai perbandingan, defisit perdagangan pada 2019 saja nilainya mencapai US$ 3,2 miliar.

Mengutip laman resmi Freeport McMorran, situs tambang yang dinamai Grasberg ini memproduksi 53 juta troy ounce emas, atau sekitar 1.656 ton emas sejak awal operasinya sampai dengan sekarang alias 30 tahun terakhir.

Sebanyak 87% dari itu diekstraksi dari tambang terbuka (open pit) yang biaya operasinya jauh lebih murah ketimbang tambang emas besar umumnya yang cadangannya jauh di perut bumi. Kita tentu berharap, MIND ID bisa mensinergikan bisnis Freeport dengan Antam terkait emas ini agar defisit neraca perdagangan terbantu.

Seandainya Antam bisa menyerap emas produksi Freeport dan berkolaborasi dengan perseroan menggarap emas, maka tak ada cerita negeri ini impor emas dari Singapura, atau berkeluh-kesah mengenai cadangan emas yang terus menurun. 


[Gambas:Video CNBC]

(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading