Internasional

Sedih, IMF Sebut Ekonomi Asia Butuh Beberapa Tahun buat Pulih

Market - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
02 July 2020 13:56
FILE - In this Feb. 14, 2020 file photo, Kristalina Georgieva, Managing Director of the International Monetary Fund, attends a session on the first day of the Munich Security Conference in Munich, Germany.   Georgieva said Friday, March 27,  it is clear that the global economy has now entered a recession that could be as bad or worse than the 2009 downturn.  She said the 189-nation lending agency was forecasting a recovery in 2021, saying it could be a “sizable rebound.” But she said this would only occur if nations succeed in containing the coronavirus and limiting the economic damage(AP Photo/Jens Meyer, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonomi Asia diperkirakan akan menyusut untuk pertama kalinya akibat pandemi virus corona (Covid-19) yang sudah berlangsung selama 7 bulan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa penyusutan ini bisa memakan waktu beberapa tahun untuk pulih.

Dalam posting blog yang diterbitkan Selasa (30/6/2020), IMF mengatakan bahwa ekonomi Asia kemungkinan akan berkontraksi 1,6% tahun ini. Padahal April lalu, IMF sempat memperkirakan tidak ada pertumbuhan di Asia.



Changyong Rhee, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF mengatakan wilayah Asia masih dalam kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan dunia bagian lain. Namun, ekonomi global yang lemah rupanya membuat Asia sulit untuk tumbuh.

Rhee mengatakan ekonomi Asia diperkirakan akan pulih dengan kuat untuk mencatat pertumbuhan 6,6% tahun depan. Tetapi tingkat kegiatan ekonomi di wilayah itu masih akan lebih rendah dari proyeksi IMF sebelum pandemi.

"Apa yang kami khawatirkan tentang Asia sebenarnya adalah pemulihan dari tahun 2020," kata Rhee, dikutip dari CNBC Internasional.

Dia menjelaskan bahwa negara-negara di kawasan Asia memiliki "ketergantungan besar" pada perdagangan, pariwisata, dan pengiriman uang. Masalahnya industri tersebut yang paling merugi setelah dihantam pandemi global ini.

"Bahkan jika kita mengembangkan solusi medis baru, pemulihan sektor padat kontak, seperti pariwisata akan lambat. Jadi karena itu, saya pikir pemulihan Asia akan berlarut-larut," katanya.

Lebih lanjut, jika terjadi gelombang kedua wabah di wilayah tersebut, Rhee mengatakan pemerintah negara-negara Asia kemungkinan tidak akan memiliki daya untuk mendukung ekonomi negara, seperti yang mereka lakukan selama gelombang pertama.

"Jadi saya bertanya-tanya, jika gelombang kedua terjadi, apakah pemerintah Asia dapat menggunakan stimulus yang sama seperti pada krisis pertama," katanya. "Jadi kita harus lebih peduli, lebih berhati-hati."



IMF bulan lalu memangkas perkiraan untuk ekonomi global, dengan memproyeksikan ekonomi dunia dapat menyusut 4,9% tahun ini, sebelum rebound tumbuh sebesar 5,4% tahun depan.

Asia merupakan wilayah pertama yang terjangkit wabah Covid-19, dengan episentrum pertama di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Setelah virus menyebar secara global, banyak pemerintah negara yang memberlakukan aturan yang membatasi interaksi dan pergerakan masyarakat, sehingga mengurangi aktivitas ekonomi negara, dan bahkan dunia.

Wabah Covid-19 sendiri sudah menjangkit 213 negara dan teritorial. Secara global sudah ada 10.809.992 kasus terjangkit, dengan 519.050 kasus kematian, dan 6.032.381 pasien berhasil sembuh per Kamis (2/7/2020), menurut data Worldometers.


[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading