Melemah 5 Hari Beruntun, Ada Apa dengan Rupiah?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
01 July 2020 16:00
Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Foto: Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah lagi melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/7/2020), memperpanjang kinerja negatif menjadi 5 hari beruntun.

Padahal sejak kemarin sentimen pelaku pasar sedang bagus, dan data ekonomi dari dalam negeri juga menunjukkan perbaikan.

Rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,07%, tetapi tidak lama langsung masuk ke zona merah. Pelemahan semakin membengkak hingga 0,49% di Rp 14.250/US$. Menjelang penutupan perdagangan, rupiah berhasil memangkas pelemahan hingga berakhir di Rp 14.190/US$ atau melemah tipis 0,07% di pasar spot, melansir data Refinitiv.


Dalam 5 hari perdagangan terakhir, rupiah memang selalu melemah tipis-tipis.

Sentimen pelaku pasar sedang bagus sejak kemarin setelah China merilis data sektor manufaktur. ISH Markit kemarin melaporkan purchasing managers' index (PMI) manufaktur Negeri Tiongkok bulan Juni naik menjadi 50,9 dari bulan sebelumnya 50,6.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di bawahnya berarti kontraksi dan di atasnya berarti ekspansi.

Dengan demikian, China masih mempertahankan bahkan menambah laju ekspansi di bulan Juni, meski virus corona sempat menyerang ibu kota Beijing. Sehingga harapan akan perekonomian bisa segera bangkit kembali muncul.

Sejak dilanda pandemi penyakit virus corona (Covid-19), sektor manufaktur China hanya mengalami kontraksi di bulan Februari (angka indeks sebesar 35,7) setelahnya, mencatat ekspansi dalam 4 bulan beruntun.

Sementara pada hari ini, Caixin juga melaporkan PMI manufaktur China naik menjadi 51,2 dari sebelumnya 50,7.

Data tersebut tentunya memberikan harapan perekonomian global akan segera bangkit dan terhindar dari resesi, atau setidaknya tidak mengalami resesi panjang. Sentimen pelaku pasar menjadi membaik, dan bursa saham Asia menghijau sejak kemarin.

Saat sentimen pelaku pasar membaik rupiah seharusnya bisa menguat, tetapi nyatanya masih loyo, bahkan saat data ekonomi dari dalam negeri menunjukkan perbaikan.

IHS Markit mengumumkan PMI manufaktur Indonesia periode Juni 2020 berada di 39,1. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 28,6.

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi periode Juni 2020 sebesar 0,18% secara bulanan (month-to-month/MtM). Ini membuat inflasi tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 1,96%.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia menghasilkan median inflasi bulanan sebesar 0,025%. Sementara inflasi tahunan ada di 1,805%.

Kenaikan PMI manufaktur (meski masih berkontraksi), dan inflasi yang lebih tinggi dari konsensus bisa memberikan gambaran roda perekonomian yang perlahan kembali berputar.

Tetapi sayangnya, sentimen pelaku pasar yang membaik dan data ekonomi dari dalam negeri masih belum mampu mendongkrak kinerja rupiah.

Hasil survei 2 mingguan Reuters bisa menjadi jawaban kenapa rupiah melemah pada hari ini. Survei tersebut menunjukkan para pelaku pasar mulai "membuang" rupiah dengan mengurangi posisi beli (long) dalam 2 pekan terakhir. 

Survei dari Reuters tersebut menggunakan rentang -3 sampai 3. Angka positif berarti pelaku pasar mengambil posisi beli (long) terhadap dolar AS dan jual (short) terhadap rupiah, begitu juga sebaliknya.

Hasil survei terbaru yang dirilis Kamis (25/6/2020) kemarin menunjukkan angka -0,05, memburuk dari rilis dua pekan sebelumnya -0,69.

Dengan angka minus yang semakin menipis menjadi -0,05, berarti investor mulai melepas posisi beli (long) rupiah setelah terus meningkat dalam satu bulan terakhir. Apalagi posisi tersebut nyaris menjadi positif yang berarti investor mengambil posisi jual (short) rupiah. Sehingga tekanan terhadap rupiah kembali meningkat.

Menurut survei tersebut, adanya risiko penyebaran pandemi penyakit akibat virus corona (Covid-19) menjadi penyebab investor kembali melepas aset-aset negara emerging market, termasuk Indonesia. Apalagi, menurut Reuters pelaku pasar melihat Bank Indonesia (BI) akan kembali memangkas suku bunga acuannya.

Saat BI kembali memangkas suku bunga, maka yield obligasi juga akan ikut menurun, sehingga daya tariknya akan berkurang. Aliran modal ke dalam negeri berisiko tersendat, rupiah pun kekurangan bensin untuk kembali menguat.

Sejak rilis hasil survei tersebut, rupiah belum lagi mampu menguat melawan dolar AS.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading