Saham Drop! Harta 4 Taipan RI Ini Tergerus, tapi Masih Tajir

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
30 June 2020 14:58
8 Cara Gaya Hidup a la Crazy Rich untuk Makin Kaya di 2019

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai kekayaan orang terkaya nomor wahid di dunia Jeff Bezos, pemilik Amazon, melorot US$ 693 juta atau Rp 9,7 triliun (asumsi kurs Rp 14.000/US$) tahun ini akibat penurunan harga saham Amazon.

Tak hanya dialami Bezos, para orang kaya di Tanah Air juga mengalami penurunan nilai kekayaan lantaran koreksi harga saham, kendati ada taipan lainnya juga bertambah hartanya.

Secara global kekayaan Jeff Bezos minus US$ 693 juta menjadi US$ 160,4 miliar atau Rp 2.246 triliun. Disusul diposisi kedua dunia yakni pendiri Microsoft, Bill Gates dengan kekayaan naik US$ 688 juta menjadi US$ 108,8 juta atau Rp 1.523 triliun.


Di Indonesia, mengacu data The Real-Time Billionaires List 2020, per 30 Juni 2020, ada empat orang terkaya di Indonesia yang nilai kekayaannya turun tajam dalam beberapa waktu terakhir.

Empat Crazy Rich yang Nilai Kekayaannya Turun

1. Martua Sitorus (Urutan 1.328 Dunia)

Kekayaan Martua Sitorus turun US$ 3 juta atau Rp 42 miliar menjadi US$ 1,9 miliar atau Rp 27 triliun. Pria 60 tahun ini sukses dalam berbisnis kelapa sawit. Pengusaha alumnus dari Universitas HKBP Nommensen, Medan itu, mendirikan Grup Wilmar bersama Kuok Khoon Hong (juga masuk daftar orang terkaya) pada 1991.

Saham Wilmar International kini diperdagangkan di Bursa Efek Singapura atau Singapore Stock Exchange (SGX). Mengacu data perdagangan di CNBC, secara year to date, saham Wilmar minus 0,73% dan setahun terakhir naik 10,54% di posisi S$ 4,09/saham.

2. Mochtar Riady & Keluarga (Urutan 1.524 Dunia)

Kekayaan pemilik Grup Lippo ini turun US$ 9 juta menjadi US$ 1,7 miliar atau setara Rp 24 triliun. Cukup banyak emiten Grup Lippo di BEI, termasuk PT Multipolar Tbk (MLPL), PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), dan PT Link Net Tbk (LINK), serta PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA).

Data BEI mencatat, saham LINK minus 33% dalam 3 bulan terakhir dan LPPF minus 6,41%, kendati beberapa saham emiten lain justru menguat dalam 3 bulan seperti LPKR naik 4,94%.

3. Peter Sondakh (Urutan 1.551 Dunia)

Harga kekayaan pemilik Grup Rajawali Corpora ini turun US$ 1 juta menjadi US$ 1,6 miliar atau setara Rp 22,4 triliun. Peter sukses membangun jejaring bisnisnya kemudian merambah ke sektor transportasi dan melepas saham PT Bentoel Internasional Investama (RMBA) pada tahun 2007.

Kini Rajawali menggenggam 17,81% saham emiten pengelola taksi Express, PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI), per September 2019. 

Tahun lalu, TAXI berhasil menekan kerugian di tahun lalu seiring dengan efisiensi yang dilakukan. Rugi bersih TAXI pada 2019 berkurang 67% menjadi Rp 275,50 miliar dari periode yang sama tahun 2018 yakni rugi bersih Rp 836,37 miliar. Saham TAXI masuk saham 'tidur' di level Rp 50/saham.

4. Theodore P Rachmat (Urutan 1.796 Dunia)

Mantan CEO Astra, TP Rachmat, mengalami penurunan kekayaan sebesar US$ 6 juta menjadi US$ 1,4 miliar atau Rp 20 triliun. Keponakan pendiri Astra, William Soeryadjaja, ini juga masuk daftar orang-orang super kaya paling dermawan di Asia dalam rilis Forbes bertajuk Asia's 2019 Heroes Of Philanthropy: Catalysts For Change.

Bisnis Grup Triputra yang dibangunnya beragam dari manufaktur, agribisnis, jasa hingga pertambangan. Di BEI, ada dua yang berstatus terbuka (emiten) yakni PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) dan PT Kirana Megatara Tbk (KMTR).

Saham ASSA menguat 5,85% di level Rp 400/saham dalam 3 bulan terakhir, sementara KMTR naik 43,37% di level Rp 238/saham. Secara year to date, saham ASSA dan KMTR masing-masing minus 46,22% dan 24,68%.

Sementara itu, masih ada lima taipan alias crazy rich Indonesia yang bertambah kekayaan seiring dengan naiknya harga saham-saham milik para pengusaha sukses ini.

Kelimanya yakni R Budi Hartono naik US$ 90 juta menjadi US$ 17,4 miliar atau setara Rp 244 triliun. Lalu Michael Hartono mencatatkan kenaikan nilai kekayaan bersih US$ 16,7 miliar atau Rp 234 triliun, bertambah US$ 86 juta. Keduanya adalah pemilik Grup Djarum dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Kemudian Prajogo Pangestu, pemilik Grup Barito Pacific, juga mencatatkan nilai kekayaan naik US$ 84 juta menjadi US$ 6,6 miliar atau setara Rp 92,4 triliun.

Berikutnya Sri Prakash Lohia, sang pemilik Grup Indorama, mencatatkan kenaikan kekayaan sebesar US$ 27 juta menjadi US$ 5,3 miliar atau setara Rp 74,20 triliun.

Sementara, Tahir dan Keluarga, memiliki nilai kekayaan mencapai US$ 4,3 miliar atau setara Rp 60,20 triliun, stagnan.

Pebisnis Tanah Air yang nilai kekayaannya naik juga adalah pemilik CT Corp, Chairul Tanjung. Nilai kekayaan pemilik Transmedia ini juga naik US$ 8 juta sehingga total mencapai US$ 3,6 miliar atau setara dengan Rp 50,40 triliun.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading