Sabar Ya! Harga Emas Dunia & Emas Antam Masih Ngos-ngosan

Market - Haryanto & Tirta Widi Gilang Citradi, CNBC Indonesia
18 June 2020 07:20
A customer puts gold bar on basket for sell to the gold shop in Bangkok, Thailand, Thursday, April 16, 2020. With gold prices rising to a seven-year high, many Thais have been flocking to gold shops to trade in their necklaces, bracelets, rings and gold bars for cash, eager to earn profits during an economic downturn.(AP Photo/Sakchai Lalit)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia di pasar spot pada perdagangan Rabu pagi kemarin cenderung stagnan alias flat. Meski data penjualan ritel Negeri Paman Sam lebih baik dari perkiraan, ketidakpastian seputar pandemi corona (Covid-19) serta tensi geopolitik yang memanas di berbagai tempat membuat harga emas susah goyah.

Pada perdagangan Rabu kemarin (17/6/2020) pada 07.55 WIB harga emas dunia naik sangat tipis 0,02% ke US$ 1.727,27/troy ons. Dengan kenaikan tipis ini harga emas cenderung tak beranjak dari level penutupan perdagangan spot pada Selasa.

Harga emas sempat menyentuh rekor sebelumnya yakni US$ 1.711/troy ons pada 16 April lalu dan level tertinggi juga sempat terjadi pada November 2012 di level US$ 1.746/troy ons.


Pada perdagangan pukul 22.32 WIB tadi malam, harga emas spot, mengacu data Kitco, tercatat di level US$ 1.725/troy ons atau melemah 0,12%.

Koreksi harga emas global ini lazim terjadi ketika pasar saham AS menguat. Pada penutupan perdagangan Selasa dini hari (16/6) atau Rabu (17/6) pagi waktu Indonesia, pasar saham Amerika Serikat (AS) mencatatkan penguatan dengan Dow Jones ditutup naik 2,04%, S&P 500 terapresiasi 1,9% dan Nasdaq Composite bertambah 1,75%.

Salah satu pemicu penguatan aset-aset berisiko seperti saham adalah data penjualan ritel AS bulan Mei yang naik 17,7% dibanding bulan April (mom). Kenaikan ini jauh lebih tinggi daripada prediksi yang memperkirakan hanya naik 7,7%.

Maklum bulan April banyak negara-negara bagian di AS yang menerapkan karantina wilayah atau lockdown. Kabar positif lain yang juga membuat pasar sumringah adalah banjir stimulus yang masih akan digelontorkan oleh pemerintah dan bank sentral global.

Di AS, bank sentralnya yaitu the Fed mengumumkan akan mulai membeli obligasi korporasi di pasar sekunder dari yang sebelumnya hanya membeli exchange traded fund (ETF)-nya saja.

Langkah pemberian stimulus moneter lanjutan diperkirakan juga akan diambil oleh Bank of Japan (BoJ). Bank sentral Negeri Sakura itu akan menginjeksi likuiditas ke perekonomian sampai US$ 1 triliun. Ada tambahan US$ 300 miliar dari sebelumnya hanya US$ 700 miliar.

Dari sisi fiskal, pemerintahan Donald Trump dikabarkan juga akan menganggarkan US$ 1 triliun untuk perbaikan infrastruktur.

Kabar membaiknya penjualan ritel AS cenderung menjadi tekanan bagi emas. Namun dengan adanya tambahan stimulus yang ada berpotensi menciptakan tekanan inflasi yang tinggi di masa depan.

Emas yang berperan sebagai aset lindung nilai (hedging) menjadi instrumen yang menarik kala ada ancaman inflasi yang tinggi serta depresiasi mata uang, sehingga ketika harga emas turun, momen ini justru dimanfaatkan investor untuk membeli logam mulia ini.

"Setiap kali harga (emas) turun, tampaknya investor melihat ini sebagai kesempatan untuk beli" kata Carlo Alberto de Casa, kepala analis ActiveTrades dalam sebuah catatan sebagaimana diberitakan Reuters.

Faktor lain yang membuat harga emas cenderung kokoh di US$ 1.700/troy ons adalah fundamental emas yang memang bagus. Selain adanya ancaman inflasi di masa depan, pasar juga masih diliputi dengan risiko ketidakpastian serta tensi geopolitik di berbagai negara.

Hanya saja harga emas di level saat ini diprediksi sulit menanjak lagi. PT Schroder Investment Management Indonesia (Schroders) menilai harga emas dunia sudah mentok di level saat ini dan diperkirakan tak akan mampu menembus level US$ 2.000 per troy ounce. Schroders menilai ada ekspektasi perekonomian dunia mulai membaik sehingga investor melihat dunia bisnis akan kembali bergeliat.

Dengan demikian, aset-aset safe haven seperti emas dunia, lazimnya akan menurun permintaannya di tengah tingginya risk appetite atau kecenderungan investor memburu aset-aset berisiko.

CEO Schroders Indonesia Michael Tjoajadi mengatakan investor memilih mengamankan dananya di emas dalam kondisi perekonomian melambat, bahkan saat mengalami penurunan. Kondisi tersebut terjadi pada saat krisis 2008-2009 dan kembali terjadi pada akhir 2019 hingga awal 2020.

Perkiraan perekonomian yang turun ini membuat harga emas melambung dari US$ 1.200 per troy ounce bisa menguat hingga US$ 1.700 per troy ounce.

"Sekarang ini US$ 1.700 dan sedikit flat saat ini ga tembus US$ 1.800 karena banyak pengusaha melihat ekonomi mulai up sehingga ga banyak yang investasi di emas. Ekonomi mulai pulih, orang mulai investasikan dananya ke bisnis, bukan emas. Ini emas terkendala naiknya karena banyak bilang emas bisa US$ 2.000. Ini yang kita bisa liat saat ini," kata Michael di Jakarta, Selasa (16/6/2020).

Kilau Harga Emas Antam Makin Meredup
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading