Ekonomi AS Membaik, Bursa Asia Mayoritas Hijau

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
08 June 2020 10:35
Passersby are reflected on an electronic board showing the exchange rates between the Japanese yen and the U.S. dollar, the yen against the euro, the yen against the Australian dollar, Dow Jones Industrial Average and other market indices outside a brokerage in Tokyo, Japan, August 6, 2019.   REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham di kawasan Asia pada perdagangan hari ini (8/6/2020) terpantau mayoritas berada di zona hijau. Naik kencangnya bursa Asia pada hari ini tidak lepas dari sentimen positif yang muncul dari data ekonomi Amerika Serikat (AS).

AS mencatat 2,5 juta lapangan kerja baru pada Mei, sehingga angka pengangguran membaik ke 13,3%, menurut data Departemen Tenaga Kerja AS. Ini menampar proyeksi ekonom dalam polling Dow Jones yang menduga ada 8 juta lapangan kerja, dan angka pengangguran 20%.

"Angka penganggurannya mantap, tingkat partisipasi kerja meningkat. Ini terkonfirmasi sebagai laporan yang solid," tutur Drew Matus, Kepala Perencana Pasar MetLife Investment Management, sebagaimana dikutip CNBC International.


Di China Daratan, Indeks SSE naik tipis 0,32%. Kenaikkan SSE terjadi meskipun adanya sentimen negatif berupa rilis data ekspor China yang terkontraksi di bulan Mei sementara impor Negara Panda menjadi catatan terburuk selama 4 tahun terakhir.

Ekspor bulan Mei terkontraksi 3,3% secara dibanding Mei tahun sebelumnya (YoY), setelah bulan April sebelumnya berhasil mengalahkan ekspektasi berekspansi 3,5% tentunya ini diatas konsensus yang dihimpun Reuters yang meramal akan terjadi kontraksi 7%.

Catatan ekspor China walaupun buruk, masih lebih baik daripada catatan impornya. Impor China tumbang setelah terkontraksi 16,7% secara YoY, memburuk dari bulan April yang 'hanya' terkontraksi 14,2%. Ini adalah catatan terburuk China secar Januari 2016. Secara konsensus sendiri diprediksikan impor China hanya terkontraksi 9,7%.

"Tingkat ekspor diuntungkan oleh pasar ASEAN dan depresiasi mata uang, sedangkan tingkat impor dipengaruhi oleh ketidakcukupan permintaan domestik dan harga-harga komoditas yang anjlok," ujar Wang Jun ekonom dari Zhongyuan Bank.

Hasilnya China membukukan surplus perdagangan sebesar 62,93 miliar US dollar, tertinggi selama Reuters melakukan pencatatan angka ini sejak 1981. Bandingkan dengan konsensus yang dihimpun Reuters yang hanya memprediksi terjadinya surplus sebesar 39 miliar US dollar.

Sedangkan di Jepang, Indeks Nikkei terbang 0,93% setelah Pemerintah Jepang Merilis data Produk Domestik Bruto (GDP) Kuartal-I final yang menunjukkan terjadinya kontraksi 2,2% dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu (YoY). Angka ini tidak jauh berbeda dari konsensus yang meramalkan terjadinya kontraksi 2,1%.


[Gambas:Video CNBC]






Sedangkan belanja modal Negara Matahari Terbit ini tumbuh 1,9% dibanding kuartal sebelumnya. Angka ini lebih baik daripada konsensus yang meramalkan hanya Capital Expenditure hanya tumbuh 1,4%.

Dari negara tetangga Singapura, Indeks STI sementara naik 1,14%,Di Korea indeks Kospi terapresiasi 0,31% dan di Hong Kong Indeks Hang Seng terbang 0,04%. Sementara itu dari dalam negeri pada 10:00 WIB Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melonjak 2,23% ke level 5.058,28 dan menjadi yang terburuk diantara bursa besar di kawasan Benua Kuning.


TIM RISET CNBC INDONESIA


(trp/trp)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading