Duh! Harga Emas Jatuh di Bawah US$ 1.700, Waktunya Keluar?

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
04 June 2020 09:10
FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo
Jakarta, CNBC Indonesia - Kembali diputarnya roda perekonomian membuat risk appetite investor makin menjadi. Aset-aset berisiko seperti saham kena berkahnya sedangkan emas malah melorot ke bawah level psikologis US$ 1.700/troy ons walau kondisi belum benar-benar kondusif.

Pada 07.40 WIB Kamis (4/6/2020) harga logam mulia emas di pasar spot menguat tipis cenderung flat dengan kenaikan sebesar 0,05%. Harga emas dunia dibanderol di US$ 1.698,4/troy ons. Hari ini harga emas melorot di bawah level psikologis US$ 1.700 sejak penutupan perdagangan pada 12 Mei lalu. Kemarin harga bullion turun 2%.




"Kita sekali lagi melihat investor masuk ke aset-aset berisiko hari ini. Semua itu berhubungan dengan data ekonomi yang dirilis. Pasar berfikir yang terburuk sudah lewat, dan ekonomi mulai bangkit," kata Ryan Nauman, ahli stretegi pasar di Financial Intelligence, sebagaimana dilansir CNBC International.



Sentimen kebangkitan ekonomi menjadi batu sandungan untuk harga emas tembus di level psikologis barunya di US$ 1.800/troy ons. Beberapa indikator sudah mulai menunjukkan bahwa ekonomi mulai bergeliat pasca kebijakan lockdown ditempuh oleh berbagai negara untuk menekan penyebaran virus corona.

Pertama, rilis data ekonomi AS terkait penciptaan lapangan kerja yang tidak buruk-buruk amat jadi sentimen positif untuk pelaku pasar kembali berani ambil risiko. Pada Rabu kemarin (5/6/2020) ADP melaporkan penciptaan lapangan kerja berkurang 2,76 juta di bulan Mei. Angka ini masih lebih baik dari survei yang memperkirakan berkurang sebanyak 8,5 juta.

Kemudian rilis data purchasing manager index (PMI) non-manufaktur mulai menunjukkan tanda rebound setelah terpuruk di bulan April. Angka PMI non-manufaktur membaik menjadi 45,4 dari bulan April sebesar 41,8. Memang masih di bawah angka 50 yang mengindikasikan kontraksi. Namun sudah menunjukkan perbaikan.

"Pengurangan tenaga kerja di bulan Mei jelas merupakan hal yang buruk, tetapi tidak separah perkiraan," kata Mark Zandi, kepala ekonomi di Moody's Analytics yang bekerja sama dengan ADP dalam mengumpulkan data.

"Itu (data ekonomi terbaru) menunjukkan bahwa mungkin segalanya akan kembali pulih lebih cepat dari yang diharapkan," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, melansir Reuters.



Bahkan dengan dipacunya kembali perekonomian di AS dan negara-negara lain di berbagai belahan penjuru dunia, investor seolah mengabaikan kerusuhan masif yang terjadi di Negeri Paman Sam maupun tensi geopolitik Washington-Beijing yang masih tinggi. 

Namun fundamental pendukung emas seperti tingkat suku bunga yang lebih rendah dan program pelonggaran kuantitatif yang tidak berubah, berpotensi membuat dalam emas bisa naik lebih tinggi dalam jangka panjang," tambah Haberkorn.

Apalagi baru-baru ini terdengar kabar bahwa bank sentral Eropa (ECB) akan menambah nilai program yang disebut sebagai Pandemic Emergency Purchase Programme (PEPP) sebesar 500 miliar euro dari sebelumnya sebanyak 750 miliar euro. Hal ini diungkapkan oleh analis dari Berenberg Economics, Florian Hense, 

Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Emas juga cenderung mendapat manfaat dari langkah-langkah stimulus yang meluas karena sering dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang. Itu lah kenapa harga emas masih 'ogah-ogahan' anjlok signifikan dan bergerak di rentang yang sempit di sekitar US$ 1.700/troy ons.




TIM RISET CNBC INDONESIA



(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading