Goks! Harga Emas 'Ngamuk' Lagi, Melesat 3%

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
07 November 2020 12:00
FILE PHOTO: An employee sorts gold bars in the Austrian Gold and Silver Separating Plant 'Oegussa' in Vienna, Austria, December 15, 2017.  REUTERS/Leonhard Foeger/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Emas kembali menunjukkan kemilaunya pekan ini setelah sekian lama harganya cenderung tak banyak bergerak. Logam mulia emas punya momentum untuk menguat di tengah anjloknya dolar AS. 

Pada 2-6 November, indeks dolar yang mencerminkan posisi greenback terhadap mata uang lainnya mengalami depresiasi yang dalam. Di saat itulah harga emas kembali melesat. 


Indeks dolar telah drop 1,95% di minggu ini dan harga emas naik hampir 3%. Emas dan dolar AS memiliki korelasi negatif kuat. Artinya memiliki arah pergerakan yang berlawanan. 

Ketika dolar AS menguat, harga emas cenderung tertekan. Begitu juga sebaliknya. Kini untuk 1 troy ons emas di arena pasar spot harganya dibanderol di US$ 1.951,5. 

Pemilihan presiden AS yang digelar pada 3 November lalu dan sampai sekarang belum selesai penghitungan suaranya menjadi sentimen utama penggerak pasar keuangan global.

Pemilu tahun ini menghadirkan dua kontestan yaitu Donald Trump sebagai petahana dan kandidat dari Republik serta penantangnya mantan wakil presiden AS era Barrack Obama, Joe Biden dari Demokrat.

Hasil penghitungan suara sementara menunjukkan Biden unggul dengan 264 suara elektoral sedangkan Trump hanya meraup 214 suara elektoral saja. Biden hanya butuh enam suara elektoral lagi untuk melangkah ke Gedung Putih.

Namun tampaknya Trump tak bisa menerima kemungkinan dirinya kalah. Intrik pun terjadi. Trump berupaya untuk menghentikan penghitungan suara di beberapa negara bagian dan di wilayah lain ia meminta penghitungan dilakukan ulang.

Trump juga berupaya untuk mempersengketakan hasil penghitungan suara ke jalur hukum. Pemilu AS tahun ini memang memakan waktu yang lebih lama dari biasanya. Selain karena mekanisme yang berbeda akibat pandemi Covid-19 juga dinamika yang terjadi. 

Pasar tampaknya semakin beradaptasi dengan kemungkinan Biden yang akan menjadi presiden AS ke-46 sampai 2024. Tak hanya itu Demokrat juga masih akan mengusai DPR sementara Senat dipegang Republik. 

Greg Harmon pendiri Dragonfly Capital, dalam sebuah wawancara dengan Kitco mengatakan bahwa bahkan jika Partai Republik mengendalikan Senat, Biden sebagai presiden mungkin akan tetap mendorong kebijakan ke arah lebih banyak stimulus daripada mengurangi. Pertanyaan yang dia tambahkan adalah apakah itu akan cukup.

Namun menurutnya ini lebih dari sekedar pertanyaan tentang stimulus. Lanskap politik AS memasuki wilayah belum dipetakan. Bahkan setelah semua suara dihitung, banyak ekonom dan pakar politik mengharapkan periode ketidakpastian yang berkepanjangan karena ada potensi penghitungan ualang suara dan tuntutan hukum diajukan.

Analis komoditas mengatakan ini juga bagus untuk emas sebagai aset safe-haven selain stimulus yang masif baik dari kebijakan fiskal yang ekspansif maupun moneter yang ultra-longgar.

Minggu ini the Fed selaku bank sentral AS juga tetap menahan suku bunga acuannya di kisaran nol persen. Strategi pembelian aset-aset keuangan yang dikenal dengan quantitative easing juga akan tetap dijalankan. 

Bos the Fed Jerome Powell bahkan menekankan pentingnya stimulus fiskal guna mendongkrak kembali perekonomian. Bahkan Powell tak segan-segan menekan para senator dengan berkata bahwa jika ekonomi tidak pulih karena stimulus yang besar tak digelontorkan, Senatlah yang harus disalahkan.Pe

Stimulus merupakan kata kunci utama emas bisa menguat 25% sepanjang tahun ini. Kebijakan fiskal ekspansif dan moneter ultra longgar menimbulkan serangkaian konsekuensi di pasar.

Banyaknya injeksi likuiditas di sistem keuangan membuat dolar AS melemah. Ekspektasi inflasi yang tinggi di masa depan meningkat. Di saat yang sama kebijakan pembelian aset-aset keuangan berupa obligasi pemerintah AS membuat yield riilnya jatuh ke teritori negatif.

Kondisi tersebut merupakan ekosistem yang baik untuk emas sebagai aset safe haven dan hedging dari devaluasi nilai mata uang akibat inflasi dan berbagai risiko ketidakpastian global.

Emas diramal berpotensi balik ke level tertingginya sepanjang sejarah yakni di US$ 2.000/troy ons. Menurut COO sekaligus Co-Founder Digix sebuah platform trading emas digital Shaun Djie mengatakan bahwa emas bakal kembali ke level psikologis tertingginya setelah pemilu selesai dan pemenangnya diketahui.

Katalis pemicu harga emas bakal kembali ke level tersebut adalah adanya kenaikan kasus infeksi Covid-19 mengglobal. Gelombang kedua Covid-19 membuat prospek pemulihan ekonomi menjadi suram.

Tahun depan sentimen yang bakal menggerakkan harga emas adalah distribusi vaksin Covid-19. Apabila vaksin tersedia dan distribusinya sesuai harapan Djie memperkirakan harga emas bakal melorot ke US$ 1.600/troy ons sebagaimana ia katakan dalam wawancara dengan Kitco News.

Namun jika yang terjadi sebaliknya, harga emas justru akan bersiap untuk melesat lebih tinggi.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading