Round Up Sepekan

IHSG Sepekan Melesat, Inilah Deretan Saham Cuan & Boncos

Market - Haryanto, CNBC Indonesia
30 May 2020 16:05
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Apresiasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sepekan ini (week-on-week/WoW) sebesar 207,66 poin atau 4,57% ke level 4.753,61, juga memengaruhi kinerja saham-saham terkait.

Penguatan IHSG terdorong oleh investor asing yang kembali masuk pasar saham di tengah berbagai kabar menggembirakan terkait vaksin virus corona, pelonggaran lockdown dan pembukaan kembali ekonomi (reopening) serta rencana pemberian stimulus lanjutan oleh pemerintah AS dan Uni Eropa.

Arus masuk dana asing (capital inflow) mulai mengalir ke pasar modal domestik. Investor asing tampaknya mulai optimistis ekonomi Indonesia akan kembali beraktivitas setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengunjungi Stasiun MRT Jakarta Bundaran HI dan Mal Summarecon di Kota Bekasi yang memberi sinyal new normal ekonomi nasional.


Sementara sentimen positif lainnya juga datang dari perkembangan vaksin penangkal corona China. Negeri Tirai Bambu akhirnya mempublikasi penelitian soal vaksin corona  yang dikembangkannya. Vaksin buatan Beijing Institute Biotechnologies dan CanSino Biological, berhasil memicu terbentuknya antibodi pada puluhan pasien dalam uji klinis tahap awal.

Hasil uji klinis tahap awal ini dipublikasikan di jurnal kesehatan The Lancet pada Jumat lalu (22/5//2020). Vaksin potensial bernama Ad5-nCoV, telah disetujui untuk uji coba manusia pada bulan Maret.

Penguatan IHSG juga ditopang oleh kinerja sejumlah saham yang tercatat di PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Saham-saham yang paling menguat sepekan kemarin di antaranya:

 

Mengacu data di atas saham-saham sektor perbankan mencatatkan kenaikan, di antaranya BBRI, BTPS dan BMRI. Saham BBRI mencatat penguatan sebesar 24,47% pada Rp 2.950/unit saham, sementara BTPS melesat 19,50% menjadi Rp 2.880/unti saham, sedangkan BMRI naik 15,80% pada Rp 4.470/unti saham.

Indeks yang mencakup sektor perbankan dan jasa keuangan ini menjadi juara menyusul sentimen positif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang baru saja mengeluarkan stimulus lanjutan dengan merelaksasi ketentuan di sektor perbankan. Relaksasi ini lebih memberikan ruang likuiditas dan permodalan perbankan sehingga stabilitas sektor keuangan tetap terjaga di tengah pelemahan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19.

Sektor yang menjadi tulang punggung IHSG ini memang menjadi perhatian sendiri dari pemangku kebijakan karena apabila sektor keuangan ambruk karena pandemi Covid-19, ditakutkan ambruknya sektor keuangan akan menimpa sektor-sektor lain dan menyebabkan terjadinya efek domino.

Kendati terjadi penguatan di sejumlah saham komponen IHSG, namun ada pula saham-saham yang mengalami penurunan atau melemah di tengah kasus pandemi Covid dan juga tensi perang saraf antara AS-China terkait situasi di Hong Kong melalui pemberlakuan UU keamanan nasional oleh China.

Ketika dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut saling bersitegang, maka dampaknya akan dirasakan oleh banyak negara di dunia ini. Prospek ekonomi global menjadi semakin suram dan pasar keuangan kembali bisa terguncang.

Saham-saham yang paling menurun sepekan kemarin di antaranya:

 

Mengacu data di atas harga saham dua emiten konsumer milik Grup Salim yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan induk usahanya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), kompak ambles paling besar pada perdagangan sepekan setelah manajemen ICBP mengumumkan akuisisi Pinehill Corpora Limited.

Selama sepekan ini saham ICBP anjlok 17,68% pada Rp 8.150/unti saham, sementara saham INDF terperosok 14,81% menjadi Rp 5.750/unti saham.

Setelah didengungkan sejak Februari 2020, Indofood CBP Sukses Makmur akhirnya meneken perjanjian jual beli bersyarat dengan Pinehill Corpora Limited dan Steele Lake. Nilai transaksi yang diteken pada Jumat 22 Mei saat libur Lebaran itu mencapai US$ 2,99 miliar atau sekitar Rp 44,55 triliun (asumsi kurs Rp 14.900/US$).

Adapun Pinehill Corpora masih terafiliasi dengan ICBP karena merupakan konsorsium di mana Anthoni Salim memiliki penyertaan secara tidak langsung sekitar sebesar 49% saham Pinehill Corpora.

Merlissa Trisno, analis dari PT CLSA Sekuritas Indonesia, dalam riset yang dipublikasikan ke pelaku pasar, juga menurunkan rekomendasi saham duo Indofood ini.

Harga akuisisi Pinehill yakni 23 kali PE (price earnings) 2020 menciptakan sentimen jangka pendek. "Indofood CBP mengumumkan hasil dan rincian akuisisi Pinehill selama liburan Lebaran. Hasilnya terlihat sejalan, dengan semua divisi memberikan margin Ebit positif pada 1Q20," katanya, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (27/5).

"Akan tetapi, akuisisi Pinehill dapat menciptakan sentimen negatif jangka pendek karena harga akuisisi 23 kali 2020 PE atas penghasilan yang dijamin, menilai Pinehill sebesar US$ 3 miliar atau 40% dari kapitalisasi pasar ICBP saat ini," katanya.

"Target penghasilan Pinehill sebesar US$ 128,5 juta pada tahun 2020 menyiratkan kenaikan 66% YoY [year on year] yang seharusnya menjadi faktor kunci yang harus diperhatikan, dalam pandangan kami. Dalam perkiraan kami, kesepakatan ini berpotensi netral terhadap pendapatan, dengan asumsi tingkat pinjaman US$ 4%."

Sebab itu dia menurunkan peringkat rekomendasi dari "beli (buy)" ke "underperformed (U-PF)" dengan target harga dari Rp 11.000 menjadi Rp 9.850/saham untuk ICBP. Rekomendasi underperformed biasa digunakan untuk saham yang diperkirakan cenderung turun di bawah pasar (indeks harga saham).

Sementara untuk INDF juga terseret oleh sentimen negatif jangka pendek di anak perusahaan. Indofood dinilai memperoleh 80% NAV (net asset value) dari anak perusahaan terbesarnya, Indofood CBP.

"Kami percaya setiap sentimen negatif jangka pendek ke ICBP juga bisa memberikan tekanan pada harga saham Indofood. Selain ICBP, sebagian besar divisi Indofood memiliki model bisnis berbiaya plus yang menunjukkan risiko penurunan terhadap margin (yaitu tepung)," katanya.

"Dampak dari kenaikan harga CPO atau minyak sawit (dalam rupiah) harus dibatasi karena mayoritas produksi (75%) diserap secara internal untuk bisnis hilir."

Sebab itu, pihaknya juga menurunkan rekomendasi dan target harga INDF dari "beli" ke "underperformed" dengan target harga Rp 8.000 menjadi Rp 6.800/saham.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(har/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading