Perang Dagang

Trump Mulai 'Perang', Bursa Nasdaq Batasi IPO Emiten China

Market - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
19 May 2020 17:15
FILE PHOTO: U.S. President Donald Trump delivers his speech as he and China's President Xi Jinping meet business leaders at the Great Hall of the People in Beijing, China, November 9, 2017. REUTERS/Damir Sagolj/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan jasa keuangan pengelola bursa Nasdaq, Nasdaq Inc, mulai mengatur pembatasan baru bagi perusahaan yang ingin melepas saham perdana lewat mekanisme penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) alias go public. Rencana ini akan menyulitkan beberapa perusahaan China untuk melakukan debut di bursa saham AS.

Kendati Nasdaq tak menyebut langsung dalam aturan barunya, langkah ini sebagian besar didorong atas kurangnya transparansi IPO perusahaan-perusahaan China, menurut sumber yang dikutip dari CNBC Internasional.

Di tengah mulai naiknya tensi perang dagang AS-China, Nasdaq juga mengumumkan beberapa pembatasan pada daftar IPO yang sudah berjalan tahun lalu. Langah Nasdaq ini dinilai berusaha untuk mengekang IPO perusahaan-perusahaan berkapitalisasi pasar (market capitalization/market cap) kecil China.

Saham-saham IPO dari perusahaan China tersebut sering diperdagangkan tipis karena sebagian besarnya dipegang oleh beberapa orang dalam. Likuiditasnya juga rendah sehingga membuat saham-saham tersebut tidak menarik bagi banyak investor institusi besar yang ingin dilayani oleh Nasdaq.


Pengetatan standar pencatatan IPO ini mencerminkan kekhawatiran operator bursa ini tentang beberapa perusahaan China yang tengah mencari dana di AS lewat IPO. Selain Nasdaq, perusahaan China juga bisa mencatatkan saham di New York Stock Exchange (NYSE) yang dioperasikan Intercontinental Exchange (ICE). Baik NYSE maupun Nasdaq biasa dikenal dengan bursa Wall Street, kendati Wall Street mengacu pada NYSE.

Pada 2 April lalu, emiten gerai kopi asal China yang tercatat di Bursa Nasdaq pada awal 2019, Luckin Coffee Inc, rival Starbucks, mengungkapkan penyelidikan internal perusahaan menemukan bahwa chief operating officer (COO) atau direktur operasional perusahaan memalsukan data penjualan tahun 2019.

A United States flag is reflected in the window of the Nasdaq studio, which displays indices and stocks down, in Times Square, New York, Monday, March 16, 2020. (AP Photo/Seth Wenig)Foto: Studio Nasdaq, yang menampilkan indeks dan stok turun, di Times Square, New York, Senin, 16 Maret 2020. (Foto AP / Seth Wenig)AP/Seth Wenig
A United States flag is reflected in the window of the Nasdaq studio, which displays indices and stocks down, in Times Square, New York, Monday, March 16, 2020. (AP Photo/Seth Wenig)


Tak tanggung-tanggung, data penjualan yang dipalsukan itu mencapai sekitar 2,2 miliar yuan atau US$ 310 juta. Jumlah penjualan itu setara dengan Rp 4,6 triliun, dengan asumsi kurs Rp 14.900/US$, sebagaimana dikutip CNBC.

Aturan baru yang akan diterapkan Nasdaq akan mewajibkan perusahaan dari beberapa negara, termasuk China, untuk meningkatkan nilai penawaran sahamnya minimal sebesar US$ 25 juta atau setara dengan Rp 373 miliar dalam IPO mereka atau setidaknya seperempat dari kapitalisasi pasar pascapencatatan mereka, kata sumber tersebut.



Ini adalah pertama kalinya Nasdaq memberikan nilai minimum pada ukuran IPO satu perusahaan. Perubahan tersebut akan menekan beberapa perusahaan China yang saat ini terdaftar di Nasdaq. Mengacu data Refinitiv, dari 155 perusahaan China yang terdaftar di Nasdaq sejak 2000, 40 IPO bruto menghasilkan nilai di bawah US$ 25 juta.

Aturan yang diusulkan juga akan mensyaratkan perusahaan melakukan audit untuk memastikan bahwa waralaba internasional mereka mematuhi standar global. Nasdaq juga akan memeriksa audit perusahaan-perusahaan kecil AS yang mengaudit akun para calon emiten China untuk IPO di AS.

Berdasarkan informasi dari sumber tersebut, perusahaan-perusahaan berkapitalisasi kecil di China ini mengejar IPO di bursa Wall Street karena mereka para pendiri dan investornya untuk menyuntikkan modal dengan kucuran dolar AS, yang tidak dapat diakses dengan mudah karena kontrol modal negara asalnya.

Perusahaan-perusahaan itu juga menggunakan status mereka yang terdaftar di Nasdaq guna meyakinkan para pemberi pinjaman di China untuk mendanai mereka dan seringkali mendapatkan subsidi dari otoritas lokal Tiongkok untuk diperdagangkan secara publik.

Dalam wawancara bersama Fox Business pada pekan lalu, Presiden AS Donald Trump terlihat "sangat kuat" mendorong kewajiban perusahaan China yang tercatat di Wall Street untuk mengikuti standar akuntansi AS. Tetapi Trump menegaskan, bila perusahaan China tak setuju, mereka dapat memutuskan untuk masuk ke bursa efek lain di London atau Hong Kong sebagai gantinya.


[Gambas:Video CNBC]





(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading