Jepang Resmi Masuk Jurang Resesi, Kurs Yen Masih "Santai"

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
18 May 2020 12:03
Mata Uang Yen. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon/Files)
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar yen (JPY) belum banyak bergerak melawan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di awal perdagangan Senin (18/5/2020), padahal pertumbuhan ekonomi (produk domestic bruto/PDB) Jepang nyungsep di kuartal I-2020, dan resmi mengalami resesi.

Yen sempat melemah 0,24% melawan rupiah, tetapi berbalik menguat 0,13% di Rp 138,71/JPY pada pukul 10:46 WIB di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sementara di saat yang sama, yen melemah 0,08% melawan dolar AS di 107,11/US$.

Data dari Pemerintah Jepang hari ini menunjukkan di kuartal I-2020 PDB Jepang mengalami kontraksi alias minus 0,9% quarter-on-quarter (QoQ), sementara secara year-on-year (YoY) minus 3,4%.


Jepang kini resmi mengalami resesi teknikal akibat PDB minus dalam dua kuartal beruntun secara QoQ. Di kuartal IV-2019 lalu, PDB Jepang minus 1,9% QoQ, dan di kuartal sebelumnya stagnan 0%.



Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) menjadi penyebab nyungsepnya ekonomi Jepang, bahkan nyaris semua negara di dunia. Ekonomi Jepang sangat terkait perdagangan dengan China dan Amerika Serikat, kedua negara tersebut menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) sehingga aktivitas ekonomi menjadi menurun. Akibatnya perekonomian Jepang pun merosot.

Dari dalam negeri, Pemerintah Jepang juga sudah menerapkan kondisi darurat kesehatan nasional, yang membatasi aktivitas warganya, perekonomian pun semakin terpukul.

Oleh karena itu, banyak analis memprediksi Jepang akan mengalami kemerosotan ekonomi terburuk sejak perang dunia II.

Meski demikian, kurs yen masih "santai" tidak mengalami gejolak berlebihan, bahkan masih mungkin menguat. Sebabnya, yen merupakan mata uang yang dianggap aset aman (safe haven) bahkan lebih safe haven dari dolar AS. Hal tersebut terjadi karena Negeri Matahari Terbit merupakan negara kreditur terbesar di dunia.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan Jepang yang dikutip CNBC International, jumlah aset asing yang dimiliki pemerintah, swasta, dan individual Jepang mencapai US$ 3,1 triliun di tahun 2018. Status tersebut mampu dipertahankan dalam 28 tahun berturut-turut.

Saat terjadi kemerosotan ekonomi secara global seperti saat ini, para investor asal Jepang akan merepatriasi dananya di luar negeri, sehingga arus modal kembali masuk ke Negeri Matahari Terbit tersebut, dan yen menjadi menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA 
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading