Efek Covid-19

Bayar Sewa Pesawat Rp 25 M/bulan, Bos Garuda: Terlalu Mahal!

Market - Muhammad Choirul Anwar, CNBC Indonesia
29 April 2020 13:12
A seal is seen on Garuda Indonesia's Boeing 737 Max 8 airplane parked at the Garuda Maintenance Facility AeroAsia, at Soekarno-Hatta International airport near Jakarta, Indonesia, March 13, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan
Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai penerbangan BUMN, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), akan menerapkan sejumlah strategi efisiensi guna bertahan di tengah dampak pandemi virus corona (Covid-19). Selain melakukan relaksasi keuangan, Garuda juga akan negosiasi pembayaran sewa pesawat kepada lessor.

Direktur Utama Garuda Irfan Setiaputra mengatakan beberapa strategi dilakukan termasuk melakukan penundaan pembayaran kepada pihak ketiga. Sementara itu, perseroan juga tetap berusaha agar ekosistem perusahaan tetap berlangsung.

"Kita melakukan negosiasi rental. Kondisi Covid-19 memungkinkan kita rekonstruksi sewa menyewa pesawat ini," katanya dalam konferensi virtual, di Jakarta, Rabu (29/4/2020).

"Kita menengarai bahwa harga sewa [pesawat] kita terlalu tinggi," tegas mantan bos BUMN PT Inti ini.


Dia mencontohkan, Boeing 777 yang dipakai untuk layanan penerbangan rute Amsterdam itu sewa pesawatnya US$ 1,6 juta atau Rp 25 miliar per bulan (asumsi kurs Rp 15.500/US$).

"Kita sudah coba nego dari lama, bahwa ini sudah terlalu mahal. Hari ini kita punya kesempatan yang sangat bagus untuk negosiasi karena harga pasar hanya US$ 800.000 dolar [Rp 12,4 miliar] per bulan. Kita punya 10 unit, jadi basically bayar 2 kali lipat dari harga market," tegasnya.

Selain itu, perseroan juga akan mengembalikan pesawat CRJ100 Bombardier yang sebelumnya sudah 'dikandangkan' alias grounded. 

"Kita juga sedang pengembalian CRJ yang kita grounded, kita terbangkan jauh lebih merugikan. Ongkos kita grounded setahun 50 juta dolar [Rp 775 miliar]. Ini waktu terbaik negosiasi sewa pesawat kita, kita minta pesawat tersebut diambil aja, kita punya fleet dan konfigurasi lebih pas."

Dalam kesempatan itu, Irfan juga menyebutkan tengah mengalami masalah terkait dengan keuangan lantaran utang jatuh tempo perusahaan pada Juni mendatang mencapai US$ 500 juta atau setara dengan Rp 7,75 triliun.

"Kami berupaya relaksasi keuangan, [kami] punya sedikit masalah, Juni ini [utang] jatuh tempo 500 juta dolar, sehingga kami membutuhkan bantuan keuangan dan relaksasi," katanya.


Sebagai perbandingan, mengacu laporan keuangan Garuda 2019, total kewajiban jangka pendek perusahaan mencapai US$ 3,26 miliar atau sekitar Rp 51 triliun dari tahun 2018 yakni US$ 3,06 miliar.

Dari jumlah itu, ada utang yang jatuh tempo dalam satu tahun yakni utang obligasi US$ 498,99 juta, pinjaman jangka panjang US$ 141,78 juta, dan pinjaman jangka pendek utang usaha pihak berelasi US$ 428,23 juta.

[Gambas:Video CNBC]





(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading