Harga Anjlok 24%, Nasib Apes Batu Bara Belum Selesai

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
27 April 2020 10:35
Coal barges are pictured as they queue to be pull along Mahakam river in Samarinda, East Kalimantan province, Indonesia, August 31, 2019. Picture taken August 31, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan
Jakarta, CNBC Indonesia - Walau ditutup dengan penguatan di akhir pekan, harga batu bara tetap saja mencatatkan koreksi yang signifikan dalam sepakan. Pandemi virus corona (COVID-19) telah memporak-porandakan segalanya, termasuk pasar energi.

Pada Jumat (24/4/2020), harga batu bara kontrak acuan Newcastle Australia ditutup di US$ 52,55/ton atau menguat 0,96% dari posisi sebelumnya. Namun dalam sepekan harga si batu hitam telah anjlok 6,66% dan sepanjang tahun telah terpangkas sebesar 23,89%.




Sebelum virus corona menyebar luas dan menjangkiti berbagai negara di penjuru dunia, walau harga batu bara cenderung stabil. Namun pandemi yang membuat pemerintah di berbagai negara di dunia mengambil langkah pembatasan sosial (social distancing) dan bahkan karantina wilayah (lockdown).



Konsekuensinya jelas besar. Orang-orang dipaksa tinggal diam di rumah. Pusat perbelanjaan sepi, perkantoran, pabrik dan sekolah menjadi sepi dan banyak yang libur. Akibatnya kebutuhan untuk listrik jadi tak banyak.

Jika mengacu pada data Asosiasi Batu Bara Dunia (WCA) sebanyak 38% pembangkit listrik global menggunakan tenaga batu bara. Dengan penurunan konsumsi listrik yang signifikan membuat permintaan batu bara juga melemah.

Di Negeri Paman Sam dan Benua Biru, batu bara merupakan sumber energi primer yang dihindari karena tak ramah lingkungan. Konsumsi batu bara AS dan Eropa dari tahun ke tahun cenderung turun.

Berbeda dengan AS dan Eropa, pasar batu bara Asia masih semarak terutama masih ditopang dengan tingginya permintaan dari China, India, Jepang dan Korea Selatan. Namun di tengah pandemi COVID-19 seperti ini pasar batu bara lintas laut menjadi lesu. Tengok saja kinerja impor negara-negara konsumen terbesar batu bara Asia di bulan April.

Impor batu bara China dalam tiga pekan terakhir bulan April tercatat sebanyak 12,2 juta ton. Sementara pada periode yang sama tahun lalu impor batu bara China mencapai 13,7 juta ton.

Hingga pekan ketiga April, impor batu bara Jepang mencapai 8,5 juta ton. Turun dari periode sebelumnya sebesar 9,7 juta ton. Impor batu bara Jepang bulan ini diperkirakan sebesar 11,4 juta ton.

Beralih ke Negeri Ginseng, Korea Selatan dalam tiga pekan terakhir telah mengimpor batu bara termal sebanyak 4,7 juta ton. Sementara pada periode yang sama tahun lalu, impor batu bara Korea Selatan mencapai 7,5 juta ton.



Faktor yang menekan kinerja impor batu bara di Jepang dan Korea Selatan adalah berakhirnya periode musim dingin yang lebih mild serta penurunan output industri terutama baja di kedua negara tersebut akibat pandemi COVID-19.

Ke depan permintaan batu bara lintas laut di kawasan Asia Pasifik masih akan lesu karena negara-negara seperti China yang berpotensi beralih ke pasokan batu bara domestik karena harganya yang sudah terlalu murah.

Selain itu harga gas alam cair (LNG) yang juga sudah sangat murah berpotensi menyebabkan Korea Selatan dan Jepang lebih memilih bahan bakar gas ketimbang batu bara. Jadi wajar saja kalau harga batu bara menjadi kian tertekan dengan dua sentimen ini.

Walau ditutup dengan penguatan di akhir pekan, harga batu bara tetap saja mencatatkan koreksi yang signifikan dalam sepakan. Pandemi virus corona (COVID-19) telah memporak-porandakan segalanya, termasuk pasar energi.

Pada Jumat (24/4/2020), harga batu bara kontrak acuan Newcastle Australia ditutup di US$ 52,55/ton atau menguat 0,96% dari posisi sebelumnya. Namun dalam sepekan harga si batu hitam telah anjlok 6,66% dan sepanjang tahun telah terpangkas sebesar 23,89%.

Sebelum virus corona menyebar luas dan menjangkiti berbagai negara di penjuru dunia, walau harga batu bara cenderung stabil. Namun pandemi yang membuat pemerintah di berbagai negara di dunia mengambil langkah pembatasan sosial (social distancing) dan bahkan karantina wilayah (lockdown).

Konsekuensinya jelas besar. Orang-orang dipaksa tinggal diam di rumah. Pusat perbelanjaan sepi, perkantoran, pabrik dan sekolah menjadi sepi dan banyak yang libur. Akibatnya kebutuhan untuk listrik jadi tak banyak.

Jika mengacu pada data Asosiasi Batu Bara Dunia (WCA) sebanyak 38% pembangkit listrik global menggunakan tenaga batu bara. Dengan penurunan konsumsi listrik yang signifikan membuat permintaan batu bara juga melemah.



Di Negeri Paman Sam dan Benua Biru, batu bara merupakan sumber energi primer yang dihindari karena tak ramah lingkungan. Konsumsi batu bara AS dan Eropa dari tahun ke tahun cenderung turun.

Berbeda dengan AS dan Eropa, pasar batu bara Asia masih semarak terutama masih ditopang dengan tingginya permintaan dari China, India, Jepang dan Korea Selatan. Namun di tengah pandemi COVID-19 seperti ini pasar batu bara lintas laut menjadi lesu. Tengok saja kinerja impor negara-negara konsumen terbesar batu bara Asia di bulan April.

Impor batu bara China dalam tiga pekan terakhir bulan April tercatat sebanyak 12,2
juta ton. Sementara pada periode yang sama tahun lalu impor batu bara China mencapai 13,7 juta ton.

Hingga pekan ketiga April, impor batu bara Jepang mencapai 8,5 juta ton. Turun dari periode sebelumnya sebesar 9,7 juta ton. Impor batu bara Jepang bulan ini diperkirakan sebesar 11,4 juta ton.

Beralih ke Negeri Ginseng, Korea Selatan dalam tiga pekan terakhir telah mengimpor batu bara termal sebanyak 4,7 juta ton. Sementara pada periode yang sama tahun lalu, impor batu bara Korea Selatan mencapai 7,5 juta ton.

[Gambas:Video CNBC]



Faktor yang menekan kinerja impor batu bara di Jepang dan Korea Selatan adalah berakhirnya periode musim dingin yang lebih mild serta penurunan output industri terutama baja di kedua negara tersebut akibat pandemi COVID-19.

Ke depan permintaan batu bara lintas laut di kawasan Asia Pasifik masih akan lesu karena negara-negara seperti China yang berpotensi beralih ke pasokan batu bara domestik karena harganya yang sudah terlalu murah.

Selain itu harga gas alam cair (LNG) yang juga sudah sangat murah berpotensi menyebabkan Korea Selatan dan Jepang lebih memilih bahan bakar gas ketimbang batu bara. Jadi wajar saja kalau harga batu bara menjadi kian tertekan dengan dua sentimen ini.






TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading