Begini Nasib Batu Bara yang Harganya Anjlok 5% Pekan Lalu

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
13 April 2020 11:25
Harga batu bara terkoreksi 5% sepekan terakhir
Jakarta, CNBC Indonesia - Sepekan lalu, harga batu bara termal kontrak futures Australia anjlok dalam dan menyentuh level terendah sejak Juli 2016.

Pada penutupan perdagangan kemarin Kamis (9/4/2020), harga batu bara termal Newcastle melemah 0,59% dari posisi penutupan sebelumnya ke level US$ 59,4/ton. Dalam sepekan harga batu bara anjlok 4,96%. Harga batu bara termal kini sudah berada di bawah level US$ 60/ton dan menjadi yang terlemah sejak Juli 2016.

Batu bara termal Australia memiliki nilai kalori 6.000 Kcal/Kg. Batu bara jenis ini banyak diekspor ke negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan dan Taiwan. Namun pada pekan pertama bulan April, terjadi anomali impor batu bara di negara-negara tersebut.



Berdasarkan data Refinitiv, sejak akhir Maret hingga kemarin, impor batu bara termal Korea Selatan dan Jepang masing-masing sebesar 0,9 dan 1,7 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan 2,7 dan 3,2 juta ton yang diimpor selama periode yang sama tahun lalu di masing-masing negara.

Dalam beberapa bulan terakhir, permintaan batu bara di kedua negara tersebut cenderung rendah dan tak seperti pada umumnya.

Pelemahan permintaan batu bara dikarenakan musim dingin yang cenderung lebih hangat dari biasanya, upaya politik untuk memerangi emisi karbon dan berbagai tindakan penanganan wabah corona.

Dari sisi politis, kelompok pemegang saham Mizuho dari Jepang dan Eropa terus menekan lembaga keuangan tersebut mengurangi penyaluran kreditnya untuk sektor batu bara dan energi fosil lainnya secara signifikan.

[Gambas:Video CNBC]



Kiko Network, sebuah organisasi non-pemerintah Jepang yang memimpin resolusi tersebut, menggambarkan Mizuho sebagai kreditur swasta terbesar di dunia bagi pengembang pembangkit listrik tenaga batu bara.

Mizuho mengatakan saat ini pihaknya sedang bekerja untuk mengurangi dampak penyaluran lingkungan akibat penyaluran kredit ke sektor energi fosil dan terus berupaya bersikap adil. Namun bukan dengan pendorong permintaan batu bara lokal.

Tokyo pada 2015 berkomitmen untuk memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada tahun 2030 dari level 2013 - ini merupakan target yang rendah. Namun di sisi lain, pemerintah terus membiayai proyek pembangkit listrik tenaga batu bara di luar negeri di negara-negara seperti Indonesia dan Vietnam.

Jepang bahkan berencana untuk membangun sebanyak 22 pembangkit listrik tenaga batu bara baru selama lima tahun ke depan, New York Times melaporkan pada bulan Februari, seperti yang diwartakan Reuters.

Keengganan Jepang untuk berhenti menggunakan batu bara, bahkan ketika negara lain beralih ke energi terbarukan, dapat ditelusuri kembali ke bencana Fukushima 2011, ketika tiga reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir Daiichi mencair setelah gempa bumi dan tsunami melanda fasilitas itu.

Sejak itu, energi nuklir, yang pernah memasok sekitar sepertiga dari listrik Jepang menjadi sangat tidak populer. Kendala geografis negara ini membuat peralihan cepat ke energi terbarukan menjadi sulit. Data dari Institut Ekonomi Energi di Tokyo menunjukkan bahan bakar fosil menghasilkan tiga perempat energi Jepang pada 2019.

Jelas ini merupakan dilema besar. Apalagi, usulan tersebut datang saat warga negara lebih khawatir tentang pandemi dan resesi daripada perubahan iklim. Bagaimanapun juga tekanan ini juga turut dirasakan oleh pasar batu bara karena menjadi ancaman bagi prospek batu bara jangka panjang.




TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading