Bos BI 'Pede' Rupiah Menguat Rp 15.000/US$ di Akhir Tahun

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
10 April 2020 13:13
Bank Indonesia (BI) meramal posisi rupiah berpotensi terus menguat.
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) meramal posisi rupiah berpotensi terus menguat terhadap dolar AS hingga kembali ke level Rp 15.000/US$ di akhir tahun ini.

Alasannya, posisi rupiah saat ini masih di bawah harga sebenarnya atau undervalue jika dibandingkan dengan sejumlah faktor penentunya.

"Kenapa? Pada saat ini nilai tukar rupiah sekarang levelnya secara fundamental dari inflasi, transaksi berjalan, dan perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri, menunjukkan nilai tukar masih undervalue. Bisa cenderung menguat," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI, dalam video conference, Kamis (9/4/2020).


Selain itu, stimulus fiskal yang diberikan oleh pemerintah juga terus membuat investor kian percaya diri. Bahkan, BI tak banyak melakukan intervensi, sehingga posisi rupiah ini terus bertahan dengan mekanisme jual beli yang normal.


"Mekanisme bid dan offer bergerak dinamis. Makin sesuai mekanisme pasar. BI kurangi lakukan intervensi, jumlah intervensi relatif kecil karena supply dan demand terpenuhi," imbuh dia.

Namun demikian, kendati rupiah diprediksi terus menguat, Perry memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal anjlok 1,1% pada akhir Juni nanti.

"Menkeu [Menteri Keuangan Sri Mulyani] sampaikan angka-angka kemudian skenario pertumbuhan ekonomi yang di 2020 diperkirakan di 2,3%," terangnya.

Kondisi ini diperkirakan jika Covid-19 masuk dalam skala berat. "Skenario di kuartal I-2020 4,7% kemudian di kuartal II-2020 1,1% dan di kuartal III-2020 mencapai 1,3% dan kemudian meningkat di kuartal IV-2020 2,4%," paparnya.

Untuk itu, sambung Perry, perlu ada stimulus yang dikeluarkan hingga Rp 405,1 triliun untuk tetap jaga ekonomi walaupun membuat defisit membengkak mencapai 5,07%.

Kamis kemarin (9/4/), nilai tukar rupiah menguat tajam melawan dolar Amerika Serikat (AS). Tidak hanya itu, rupiah juga "berlari" sendirian dibandingkan mata uang utama Asia lainnya.

Semula, rupiah membuka perdagangan dengan melemah tipis 0,03% di Rp 16.155/US$. Mata uang Garuda terlihat akan kembali K.O. pada Kamis siang setelah depresiasi bertambah besar hingga 0,31% di Rp 16.200/US$.

Namun, setelah mencapai level tersebut, rupiah justru berbalik menguat. Apresiasi bahkan semakin tajam setelah rupiah melewati Rp 16.000/US$. Di akhir perdagangan, rupiah berada di level Rp 15.800/US$, menguat 2,17% di pasar spot, melansir data Refinitiv.




[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading