Stimulus Jokowi Cukup Manjur, IHSG Menghijau di Sesi I

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
01 April 2020 12:47
IHSG langsung melemah 0,62% beberapa saat setelah perdagangan hari ini dibuka
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat di perdagangan sesi I Rabu (1/4/2020), meski sempat masuk ke zona merah di awal perdagangan.

IHSG langsung melemah 0,62% beberapa saat setelah perdagangan hari ini dibuka. Perlahan bursa kebanggaan tanah air ini berhasil bangkit dan masuk ke zona hijau.

Penguatan IHSG semakin terapresiasi hingga nyaris 2% di 4,627,418. Tetapi sayangnya performa tersebut gagal dipertahankan, IHSG memangkas penguatan dan mengakhiri sesi I di 4.555,345 atau menguat 0,36%.


Berdasarkan data RTI nilai transaksi sepanjang sesi I sebesar Rp 2,1 triliun dengan investor asing melakukan aksi jual bersih Rp 71,07 miliar di pasar reguler dan non-reguler.

Pandemi virus corona (COVID-19) masih menjadi isu utama di pasar saham global. Berdasarkan data Johns Hopkins CSSE, hingga pagi ini kasus COVID-19 sudah "menyerang" 180 negara/wilayah, dengan lebih dari 850.000 terjangkit, 42.032 orang meninggal dunia dan 177.857 dinyatakan sembuh.

Di Indonesia, kasus pertama dilaporkan pada awal bulan Maret, dan hingga Selasa kemarin sudah ada 1.528 kasus positif COVID-19, dengan 136 orang meninggal dunia dan 81 sembuh.



Guna memerangi COVID-19, Presiden Joko Widodo kemarin mengumumkan stimulus senilai Rp 405,1 triliun yang akan digunakan untuk dana kesehatan Rp 75 triliun, jaring pengaman sosial atau sosial safety net (SSN) Rp 110 triliun, insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat Rp 70,1 triliun

Termasuk Rp 150 triliun yang dialokasikan untuk pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional.

"Termasuk restrukturisasi kredit dan penjaminan serta pembiayaan untuk UMKM dan dunia usaha menjaga daya tahan dan pemulihan ekonomi," jelas Jokowi, Selasa (31/3/2020).

Stimulus dari Jokowi tersebut cukup manjur, IHSG berhasil menguat di sesi I meski mendapat sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.

Dari dalam negeri, pandemi COVID-19 sudah menunjukkan dampak negatif ke sektor riin, aktivitas sektor manufaktur mengalami kontraksi di bulan Maret.

Aktivitas industri dicerminkan oleh Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur, yang menggambarkan pembelian bahan baku/penolong dan barang modal yang akan digunakan untuk proses produksi pada masa mendatang.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik awal, di atas 50 berarti industri sedang ekspansif sementara di bawah 50 artinya kontraktif alias mengkerut.

IHS Markit melaporkan PMI Indonesia Maret 2020 adalah 45,3. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 51,9 sekaligus menjadi yang terendah sepanjang sejarah pencatatan PMI yang dimulai pada April 2011.

Itu artinya sektor manufaktur RI sudah mulai menurunkan hingga menghentikan produksinya akibat pandemi COVID-19.



Kemudian dari luar negeri, bursa saham AS (Wall Street) kembali melemah pada perdagangan Selasa kemarin. Sebagai kiblat bursa saham dunia, melemahnya Wall Street tentunya memberikan hawa negatif ke pasar Asia hari ini. Terbukti, bursa saham Asia bergerak bervariasi, indeks Nikkei Jepang, Kospi Korea Selatan, dan Hang Seng Hong Kong berada di zona merah, sementara Shanghai Composite berhasil menguat.

IHSG menjadi salah satu bursa yang menunjukkan kinerja positif di paruh pertama perdagangan hari ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading