Lockdown Dunia Bisa 6 Bulan, Ekonomi Global Bakal Terguncang

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
30 March 2020 16:50
Lockdown Dunia Bisa 6 Bulan, Ekonomi Global Bakal Terguncang
Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah virus corona atau COVID-19 berpotensi memicu ekonomi dunia mengalami kemerosotan dalam. Langkah lockdown atau penguncian wilayah yang dilakukan sejumlah negara merupakan tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan diprediksi bisa berlangsung berbulan-bulan.

Hal tersebut disampaikan oleh kalangan analis pasar modal seperti dikutip dari CNBC Internasional. Lockdown atau isolasi wilayah tersebut telah membuat pembatasan aktivitas hingga miliaran orang di dunia.

Hingga saat ini, lebih dari 723.000 orang telah terjangkit COVID-19 di seluruh dunia, dengan jumlah kematian sebanyak 34.018 orang , menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.


"Saya pikir, saat ini, masalah utama adalah mencoba dan melakukan sesuatu yang pada dasarnya belum pernah dilakukan sebelumnya di dunia," kata Kepala Analis Economist Intelligence Unit (EIU) Inggris Matthew Oxenford, kepada CNBC dalam program "Squawk Box Europe", dikutip Senin (30/3/2020).

"[Virus ini] membuat sistem ekonomi yang jadi pendukung kehidupan, berada dalam semacam pembekuan yang dalam. Mereka [negara-negara] dapat keluar [dari situasi lockdown ini] bisa tiga atau mungkin lebih dari enam bulan," tambahnya.


Di Amerika Serikat (AS), yang sejauh ini telah melaporkan kasus paling banyak coronavirus di seluruh dunia, juga merespons hal tersebut dan berupaya menahan sebaran virus corona. Presiden AS Donald Trump juga menerapkan social distancing sehingga masyarakat harus tetap di tempatnya sampai setidaknya 30 April. Social distancing juga diterapkan semua negara yang terjangkit virus ini termasuk Indonesia.

Lebih dari 143.000 kasus virus korona telah dilaporkan di AS hingga saat ini, jumlah itu menyalip baik Italia dan China per pekan lalu dari sisi jumlah positif orang yang terinfeksi COVID-19.

Analis di Berenberg, private bank di Jerman, juga percaya wabah ini semakin memastikan semua ekonomi negara maju akan mengalami resesi pada tahun ini. Sementara ekonomi AS tahun ini kemungkinan akan turun 3% secara tahunan.

"Setidaknya untuk bulan Maret hingga Mei, data ekonomi akan menunjukkan kontraksi yang tidak terlihat sebelumnya di masa damai," kata analis di Berenberg dalam riset yang dipublikasikan Minggu.

"Tahun ini, semua ekonomi maju akan mengalami resesi dengan penurunan PDB tahunan mulai dari 3% di AS hingga sekitar 7,5% di Italia," prediksi riset tersebut.

Sebelumnya, S&P Global dalam sebuah laporannya dipublikasikan pada Jumat (6/3/2020), menuliskan virus corona dapat menimbulkan kerugian pada perekonomian Asia Pasifik sebesar US$ 211 miliar atau setara dengan lebih dari seperlima output perekonomian RI dalam setahun.

Australia, Hong Kong, Singapura, Jepang, Korea Selatan dan Thailand diprediksi terancam terseret ke dalam jurang resesi. Menurut S&P, pertumbuhan ekonomi China untuk 2020 juga berpotensi turun dari 5,7% menjadi 4,8%.



[Gambas:Video CNBC]


(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading