Tunggu Kepastian Karantina Jabodetabek, IHSG Ambles 4,11%

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
30 March 2020 12:02
Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat dihentikan sementara 30 menit (trading halt) sejak pukul 10:20 WIB setelah IHSG ambles 5,01%.
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Saham Saham Gabungan (IHSG) kembali ambles pada perdagangan sesi I Senin (30/3/2020) setelah menikmati rally tajam dalam dua perdagangan sebelumnya.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat dihentikan sementara 30 menit (trading halt) sejak pukul 10:20 WIB setelah IHSG ambles 5,01%. Perdagangan baru dibuka kembali pada pukul 10:50 WIB, IHSG mampu menipiskan pelemahan dan mengakhiri perdagangan sesi I di level 4.358,429 melemah 4,12%.

Berdasarkan data RTI, nilai transaksi sepanjang sesi I sebesar Rp 2,79 triliun dengan investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 13,2 miliar di pasar reguler dan non reguler.




Sebelumnya pada Kamis pekan lalu, IHSG mencatat penguatan sebesar 10,19%, dan menjadi persentase kenaikan harian terbesar dalam 21 tahun terakhir atau tepatnya sejak sejak 8 Juni 1999. Sementara rekor persentase kenaikan terbesar IHSG tercatat pada 2 Februari 1998 ketika melesat 14,03%, berdasarkan data Refinitiv. Pada perdagangan Jumat, IHSG masih menanjak lagi sebesar 4,76%.

Penguatan IHSG tersebut dipicu oleh stimulus jumbo yang digelontorkan AS. Pada hari Jumat waktu AS, Presiden Donald Trump resmi menandatangani undang-undang stimulus fiskal senilai US$ 2 triliun. Stimulus tersebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah yang pernah dikeluarkan pemerintah Washington, nilainya bahkan dua kali lipat dari nilai perekonomian Indonesia.

Sayangnya stimulus tersebut belum mampu mendongkrak bursa saham global dan IHSG lebih lanjut. Pelaku pasar kembali dibuat cemas akan penyebaran pandemi COVID-19.

Berdasarkan data dari Johns Hopkins CSSE, hingga saat ini lebih dari 170 negara terpapar COVID-19, dan menjangkiti lebih dari 721.000 orang, dengan nyaris 34.000 orang menigggal dunia, dan lebih dari 151.000 dinyatakan sembuh. 

Sementara di Indonesia hingga minggu kemarin sudah ada 1.285 kasus positif COVID-19, dengan 114 orang meninggal dunia, dan 64 sembuh. 

Kabar terbaru menyebutkan pemerintah RI berencana membatasi akses ke Jabodetabek alias lockdown. Kendaraan pribadi dan angkutan orang dilarang masuk, sementara angkutan logistik masih diperbolehkan.

"(Kendaraan) pribadi juga termasuk. Pokoknya angkutan oranglah. Angkutan barang enggak (berlaku). Logistik tidak," ujar Direktur Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Ahmad Yani kepada CNBC Indonesia, Minggu (29/3/20).

Hal ini juga berlaku untuk kereta api yang memiliki rute perjalan dari dan menuju Jabodetabek. Untuk penutupan ruas jalan, secara teknis, besar kemungkinan akan dilakukan blokade di sejumlah titik.

"Ya kemungkinan begitu (diblokade)," ujarnya



Yani juga menjelaskan bahwa secara lengkap, langkah ini masih menunggu hasil rapat terbatas (Ratas) yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Ratas itu dijadwalkan berlangsung hari ini.

Investor bereaksi negatif akan kemungkinan adanya karantina tersebut, dan membuat IHSG ambles. 

Mengiringi amblesnya IHSG hingga akhir sesi I, satu emiten terkena Auto Rejection Bawah (ARB) yakni PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU). Selain itu ada 123 emiten yang merosot lebih dari 6% alis mendekati batas ARB 7%.

Beberapa saham unggulan (blue chips) yang mendekati ARB diantaranya PT Gudang Garam Tbk (GGRM) -6,99%, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) -6,99%, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) -6,96%, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) -6,92%, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) -6,92%. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) -6,88%, dan PT Astra International Tbk (ASII) -6,86%.


TIM RISET CNBC INDONESIA 
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading