Stimulus Picu Harga Minyak Melesat, Tapi Tak Bisa Banyak

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
27 March 2020 10:56
Stimulus Picu Harga Minyak Melesat, Tapi Tak Bisa Banyak Foto: Ilustrasi: Minyak mengalir keluar dari semburan dari sumur 1859 asli Edwin Drake yang meluncurkan industri perminyakan modern di Museum dan Taman Drake Well di Titusville, Pennsylvania AS, 5 Oktober 2017. REUTERS / Brendan McDermid / File Foto
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah menguat pada perdagangan hari ini, Jumat (27/3/2020). Namun harga si emas hitam masih berada dalam tekanan dan di bawah US$ 30/barel.

Pada 10.00 WIB, harga minyak mentah kontrak futures menguat dengan Brent naik 0,57% ke US$ 26,49/barel. Sementara minyak acuan Amerika Serikat yakni West Texas Intermediate menguat lebih tinggi sebesar 1,19% ke US$ 22,87/barel.

Harga minyak masih berada dalam tekanan seiring dengan terus merebaknya infeksi virus corona (COVID-19) yang kini telah menjangkiti hampir semua negara di dunia. Data terbaru Johns Hopkins University CSSE, saat ini sudah ada lebih dari 531.000 orang di dunia terinfeksi COVID-19.



Kini China bukan lagi menjadi negara yang terjangkit COVID-19 paling banyak, karena sudah disalip oleh Paman Sam dengan lebih dari 85 ribu kasus. Amerika Serikat telah menyalip Italia dan China dilihat dari jumlah kasus.

Semakin merebaknya wabah ganas ini, banyak negara yang sudah mengambil kebijakan lockdown. Kebijakan tersebut jelas membuat aktivitas bisnis jadi terhambat. Mobilitas orang dan barang juga ikut terganggu. Permintaan akan minyak sebagai bahan bakar terancam turun signifikan.

"dengan adanya lockdown di berbagai negara,permintaan minyak akan terkontraksi lebih dari 10 juta barel per hari (bpd) kian nyata dan kemungkinan akan terjadi kelebihan pasokan di pasar" tulis analis ANZ dalam sebuah catatan.

Direktur perusahaan trading minyak terbesar di dunia yakni Vitol Group memperkirakan penurunan permintaan minyak bisa sampai 15 juta - 20 juta bpd, melansir Reuters.

Penurunan permintaan minyak ini justru semakin diperparah dengan ancaman banjirnya pasokan di pasar. Perang harga antara Arab Saudi dan Rusia semakin membuat keadaan semakin runyam pasca Moscow menolak proposal Riyadh untuk memangkas produksi minyak lebih besar di tengah wabah COVID-19.

Saat ini Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak dan aliansinya (OPEC+) masih terikat pada kesepakatan untuk memangkas produksi minyak hingga 2,1 juta bpd sampai akhir Maret. Setelah Maret berakhir, Arab berencana untuk menaikkan produksinya lebih dari 10 juta bpd.

Ketika permintaan turun dan pasokan malah berlebih, maka harga jadi turun. Inilah yang terjadi pada pasar minyak mentah saat ini.


Namun harga minyak mendapat sentimen positif dari adanya paket stimulus ekonomi yang diperjuangkan oleh berbagai negara di dunia. Para pemimpin G20 berjanji akan menyuntikkan dana hingga US$ 5 triliun ke perekonomian global untuk melindungi pekerjaan dan daya beli masyarakat yang terancam akibat wabah ini.

"Lakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk mengatasi pandemi" begitu tulis Reuters. Walaupun harga minyak menguat hari ini, tetapi ini tak langsung mencerminkan aspek fundamentalnya. Selagi wabah COVID-19 belum bisa dijinakkan, perekonomian global juga masih terancam, harga minyak pun masih berada dalam tekanan.



TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]




(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading