Friday The 13th, Sempat Disetop IHSG Selamat Ditutup Hijau

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
13 March 2020 16:46
Usai terjun bebas IHSG lakukan vertical take off dan berhasil menguat 0,24% hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Usai terjun bebas pada menit-menit awal perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil melenggang ke zona hijau di sesi kedua perdagangan Jumat (13/3/2020).

Dibuka langsung dengan koreksi 1,56% di level 4.895,75, pada 09.01 IHSG langsung terjun bebas. Pada 15 menit awal perdagangan, indeks bursa saham tanah air harus rela terkapar anjlok 5% dan langsung kena trading halt selama tiga puluh menit.

Setelah itu perdagangan dimulai lagi. Pergerakan indeks masih tak banyak yang bisa diharapkan. IHSG menyentuh level terendah dalam perdagangan hari ini di level 09.49 WIB. Hingga akhir akhir penutupan sesi I perdagangan IHSG masih berada di zona pesakitan.



Namun saat perdagangan sesi II dimulai kembali, IHSG seolah melakukan 'vertical take off' dan langsung melesat tinggi. Delapan menit setelah perdagangan sesi II dibuka IHSG melesat ke level 4.878.78. Namun anjlok lagi setelah itu.

Sebelum akhirnya ditutup menguat 0,24% di akhir perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 4.934,23 atau mencatatkan penguatan sebesar 0,78%. Pada perdagangan hari ini total nilai transaksi mencapai Rp 9,16 triliun dengan asing membukukan aksi jual bersih sebesar Rp 575,84 miliar.

Aksi panic selling di bursa saham global merembet ke bursa saham Asia pagi ini. Mayoritas indeks bursa saham kawasan Benua Kuning terjun bebas pagi ini. Maklum pagi tadi bursa saham Paman Sam juga ditutup kebakaran.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup anjlok 9,99%, S&P 500 ambles 9,51%, dan Nasdaq Composite ambruk 9,43%. Perlu diketahui bersama, ini merupakan koreksi terdalam sejak 1987. Dengan begitu Wall Street sudah sah masuk pada bear market karena sudah anjlok 20% lebih dari level tertingginya.


Kepanikan yang melanda bursa saham dunia ini dipicu oleh COVID-19. Dua hari lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa status wabah COVID-19 berubah menjadi pandemi.

WHO mengatakan lonjakan kasus yang terjadi di berbagai penjuru dunia menjadi alasan mengapa organisasi tersebut menyematkan status tersebut pada COVID-19. WHO mengimbau setiap negara untuk siap siaga dan melakukan langkah apa pun untuk mengontrol penyebaran virus ganas ini.

Kurang lebih pada pukul 10.00 WIB tadi pemerintah mengumumkan telah menyiapkan stimulus fiskal berupa relaksasi Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21, PPh Pasal 22 Impor, PPh Pasal 25 dan restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Selain stimulus fiskal, pemerintah juga memberikan stimulus non-fiskal yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing melalui ekspor.

Panic selling yang menerpa bursa saham global telah membuat uang senilai US$ 14 triliun raib dari pasar dalam sebulan terakhir. Pasar masih dilanda kepanikan selagi COVID-19 masih ada dan terus menjadi momok yang membayangi pasar. Kini pasar tengah menanti berbagai stimulus untuk meredam dampak COVID-19 terhadap perekonomian.

"Birokrasi pemerintah tidak sejalan dengan kecepatan wabah dan ekpektasi pasar" kata Tai Hui kepala Strategi Pasar Asia JP Morgan Aset Management, seperti diwartakan Reuters. "Kita perlu melihat adanya kestabilan dari segi jumlah kasus, kita juga tengah menanti stimulus baik fiskal maupun moneter" tambahnya.

Stimulus fiskal telah disiapkan pemerintah, sementara kebijakan moneter juga telah dilonggarkan oleh Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral. Tahun ini tepatnya pada Februari lalu BI kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps sehingga suku bunga acuan berada di level 4,75%.

Tak hanya suku bunga acuan saja yang dipangkas BI, Giro Wajib Minimum (GWM) untuk rupiah juga diturunkan sebesar 50 bps serta untuk valas dari yang sebelumnya 8% menjadi 4% dari DPK.

Amunisi sudah dikeluarkan. Kini tinggal bagaimana caranya benar-benar membunuh musuh utamanya yaitu si virus itu sendiri. Walau stimulus yang diumumkan hari ini cukup mengangkat pasar, tetapi rasanya ini masih sentimen yang bersifat temporer.

Volatilitas di bursa saham masih berpotensi tinggi. Selagi virus corona masih membayangi pasar dan belum benar-benar hilang atau setidaknya dijinakkan, penampakan pasar masih akan sama dihiasi dengan roller coaster liar pergerakan indeks dan harga saham.


[Gambas:Video CNBC]





TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading