Corona Bisa Bikin Resesi, Bursa Saham & Minyak Dunia Crash

Market - Sefti Oktarianisa, CNBC Indonesia
12 March 2020 11:53
Pasar saham dan harga minyak dunia hari ini anjlok dalam lagi.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham dan harga minyak dunia hari ini anjlok dalam lagi. Ada yang bilang pemicunya karena Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melarang semua pelancong dari Eropa masuk ke AS selama sebulan.

Kebijakan ini dilakukan Trump untuk memerangi virus corona, yang memicu ketakutan bakal membuat ekonomi dunia jatuh ke jurang resesi.

Hingga saat ini belum ada tanda-tanda penyebaran virus ini berkurang. Jumlah orang yang terinfeksi di seluruh dunia terus bertambah.


Langkah Trump diambil, setelah organisasi kesehatan dunia (WHO) secara resmi menyatakan virus corona COVID-19 sebagai pandemi dunia. Pasar saham Asia yang sudah tertekan karena pengumuman WHO, makin tertekan lagi setelah Trump mengumumkan kebijakan barunya tersebut.



Dilansir dari AFP, Kamis (12/3/2020), bursa saham di Tokyo jatuh lebih dari 5%, sementara bursa saham Hong Kong jatuh 3,8% di sesi pertamanya. Bursa saham di Sydney dan Bangkok lebih parah lagi, masing-masing jatuh hampir 7% dan 8%.

Sementara bursa saham Seoul, Wellington, Mumbai, dan Taipei disebut anjlok lebih dari 4%. Untuk bursa saham Singapura dan Jakarta turun lebih dari 3%. Bursa saham Shanghai turun 1,3%.

Mata uang yen dianggap sebagai investasi aman di saat krisis, nilainya lompat 1% lebih terhadap dolar AS.

"Larangan perjalanan ini sama saja dengan melambatnya aktivitas ekonomi global," kata seorang analis, Stephen Innes, dari AxiCorp.

Jatuhnya bursa-bursa saham Asia ini mengikuti hancurnya bursa saham Wall Street.



Harga minyak mentah juga anjlok lagi pada perdagangan hari ini. Harga minyak mentah kontrak berjangka Brent dihargai US$ 33,86/barel atau turun 5,39% dan minyak mentah acuan AS yakni West Texas Intermediate (WTI) nyungsep 5,4% ke level US$ 31,2/barel.

Anjloknya harga minyak membuat ketidakpastian global meningkat. Perekonomian global kembali masuk ke dalam lautan badai, terpaan ombak besar tak terelakkan. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan (OECD) merevisi turun pertumbuhan ekonomi global pada 2020 dari sebelumnya 2,9% menjadi 2,4%.

[Gambas:Video CNBC]




(wed/wed)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading