Saham Bank BUKU IV Berguguran, Bikin IHSG Drop Lebih 2%

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
27 February 2020 11:42
Saham emiten perbankan buku IV anjlok lebih dari 3% hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh dalam jelang istirahat sesi I perdagangan hari ini. Saham-saham emiten perbankan buku IV pun ikut berguguran.

Pada 11.18 WIB IHSG terkoreksi 2,22% dengan asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar RP 366,7 miliar. Pada waktu yang sama, saham-saham emiten perbankan dengan kapitalisasi pasar yang besar juga anjlok lebih dari 3%.

Saham BBCA turun 3,27%, saham BBNI anjlok 3,42%, saham BBRI ambles paling dalam 7,14% sementara saham BMRI melorot 3,92%. Sejak awal tahun, saham-saham emiten perbankan ini juga menunjukkan penurunan kinerja bersama dengan IHSG




Anjloknya saham emiten perbankan ini menyusul aksi jual yang juga terjadi di berbagai bursa saham dunia akibat virus corona yang mulai meluas ke 45 negara.

Jumlah korban yang dinyatakan terinfeksi virus corona mencapai lebih dari 81.000 orang. Patogen ganas ini juga telah menewaskan lebih dari 2.700 orang. Awal pekan ini dunia kembali digemparkan dengan adanya lonjakan jumlah kasus baru di luar China yang terjadi di Korea Selatan, Italia dan Iran.


Sampai dengan hari ini, Korea Selatan melaporkan sudah ada 1.595 kasus infeksi virus corona di negaranya. Sementara di Italia dan Iran masing-masing sudah sudah ada 453 kasus dan 139 kasus infeksi.

Jumlah korban meninggal di Korea Selatan bertambah menjadi 12 orang, di Italia jug ada 12 orang dikabarkan meninggal dunia akibat infeksi virus ini. Di Iran, jumlah korban meninggal mencapai 19 orang.

Selain lonjakan kasus baru terjadi di tiga negara tersebut. Jumlah negara yang mengkonfirmasi adanya infeksi virus corona juga bertambah. Jika pada awal pekan ini ada 39 negara yang sudah terjangkit virus corona, hari ini jumlahnya bertambah menjadi 45 negara.

Tekanan jual yang terjadi di bursa saham AS dalam dua hari perdagangan awal pekan ini mencapai US$ 1,7 triliun. Para investor dan pelaku pasar kini beralih ke aset-aset yang minim risiko, tercermin dari kenaikan harga emas yang mencetak rekor tertinggi dalam 7 tahun dan penurunan imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun.


Selain dua eksternal, sentimen negatif juga datang dari dalam negeri. Mega skandal kasus korupsi PT Asuransi Jiwasraya yang merembet ke industri lain seperti reksadana juga turut menjadi sentimen negatif yang membuat investor melego saham-saham di tanah air.

Saat ini Kejaksaan Agung tengah memeriksa 9 orang pegawai bank dari bank berbeda baik bank nasional terkait kasus Jiwasraya. Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung (Kapuspenkum Kejagung) Hari Setiyono mengungkapkan Bank yang diperiksa memiliki keterkaitan dengan transaksi yang dilakukan dalam kasus Jiwasraya, diantaranya oleh tersangka.

Ketatnya likuiditas perbankan masih akan terasa di tahun 2020. Hal ini tercermin dari penyaluran kredit yang ekspansif sementara penerimaan dari dana pihak ketiga (DPK) yang pertumbuhannya tak bisa menyamai pertumbuhan kredit.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan pertumbuhan DPK di angka 7% di akhir tahun 2019 sementara kredit tumbuh di atas 10%. Sementara itu, LPS memperkirakan di tahun 2020 DPK perbankan diproyeksikan tumbuh 8,4% padahal kredit diramal tumbuh 12,1%.

Jika gap likuiditas semakin melebar serta rasio kredit macet juga naik, tentu ini bukan kabar yang baik karena berpotensi menggerus laba dari perbankan itu sendiri. Hal ini tentu jadi sentimen negatif untuk industri perbanka tanah air. Pasalnya laba perbankan pada 2019 mencatatkan perlambatan. Laba bersih emiten perbankan rata-rata tumbuh single digit saja.

Selain saham-saham emiten perbankan, saham dengan nilai kapitalisasi besar lain yang juga ambles adalah ASII (-1,24%), UNVR ( -1,71%), HMSP (2,52%), GGRM (3,64%), TLKM (-0,57%), dan ICBP (-0,69%).

[Gambas:Video CNBC]





TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading