Lapkeu Disclaimer & Terancam Delisting, Ini Penjelasan AISA

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
24 February 2020 12:51
Laporan keuangan perseroan selama dua tahun berturut-turut mendapatkan catatan Opini Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer) dari akuntan.
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (ASIA) masih masuk dalam daftar perusahaan yang berpotensi dihapuskan pencatatannya (delisting) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Laporan keuangan perseroan selama dua tahun berturut-turut mendapatkan catatan Opini Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer) dari akuntan.

Manajemen perusahaan dalam keterbukaan informasinya yang disampaikan ke BEI mengemukakan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan lapkeu perseroan disclaimer.

"Berdasarkan opini yang disampaikan oleh auditor pada masing-masing Laporan Keuangan Tahun 2017 (disajikan ulang/restated) dan laporan keuangan tahunan 2018, perseroan memahami bahwa hal-hal berikut merupakan penyebab timbulnya opini 'tidak menyatakan pendapat'," tulis manajemen perusahaan, dikutip CNBC Indonesia, Senin (24/2/2020).



Beberapa faktornya antara lain tak dikonsolidasikannya PT Dunia Pangan dan anak usahanya. Hal ini disebabkan karena perusahaan ini sudah dinyatakan pailit dan asetnya saat ini tengah diurus oleh kurator. Untuk itu perusahaan sudah tak memiliki akses data dan informasi keuangan ke perusahaan ini.

Faktor selanjutnya adalah tak adanya akses auditor untuk laporan keuangan anak usaha AISA lainnya, yakni PT Poly Meditra dan PT Surya Cakra Sejahtera. Disebutkan bahwa perusahaan saat ini tak mendapatkan kendali atas dua perusahaan ini, upaya pergantian direksi telah dilakukan namun masih berada dalam proses hukum.

Kemudian, hingga proses audit dilakukan pihak auditor tak mendapatkan balasan konfirmasi dan bukti audit yang cukup atas saldo yang disajikan kembali dalam laporan keuangan. Hal ini terkendala oleh proses inventarisasi dokumen perusahaan pasca transisi manajemen lama ke manajemen baru usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 27 Juli 2018.


Auditor juga mengindikasikan adanya ketidakmampuan bagi perusahaan untuk mempertahankan keberlangsungan usahanya ke depan. Namun, pihak perusahaan mengklaim telah melakukan upaya strategis untuk mempertahankan usahanya ini.

"Terkait hal ini perseroan telah melakukan upaya-upaya strategis untuk mempertahankan kelangsungan usaha perseroan dan manajemen meyakini bahwa upaya-upaya tersebut adalah upaya terbaik yang saat ini dapat ditempuh untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi perseroan," demikian tanggapan AISA.

Faktor terakhir adalah karena auditor tak yakin dengan saldo awal dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2017. Lagi-lagi hal ini disebutkan karena adanya proses transisi manajemen yang dinilai tidak ideal yang saat ini masih dalam proses hukum.

Manajemen AISA menyatakan mayoritas opini disclaimer tersebut disebabkan karena adanya proses hukum yang tengah dijalankan perusahaan saat ini.

[Gambas:Video CNBC]



Adapun BEI kembali memperpanjang penghentian perdagangan saham (suspensi) AISA pada Senin 17 Februari 2020 hingga pengumuman lebih lanjut. Perpanjangan suspensi ini dilakukan sebab laporan keuangan audit perusahaan memperoleh opini disclaimer sebanyak 2 kali berturut-turut atau sebanyak 1 kali Opini Tidak Wajar (Adverse).

"Selanjutnya, Bursa mempertimbangkan periode suspensi sampai dengan 5 Juli 2020 telah mencapai 24 bulan dan sesuai ketentuan Peraturan Bursa I-I, maka AISA masih berpotensi untuk didelist," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna di Jakarta, Rabu (18/2/2020).

Dengan demikian, suspensi ini terus berlanjut setidaknya hampir 2 tahun lamanya. Sebelumnya, AISA terancam dihapuskan pencatatan sahamnya di BEI pada tahun ini. Pasalnya, saham perusahaan produsen makanan ringan Taro ini, telah dihentikan perdagangannya selama 15 bulan sejak tahun 2018. Maksimal suspensi satu emiten ialah 24 bulan sehingga batas waktu AISA ialah 5 Juli 2020.
Artikel Selanjutnya

Peringatan! 15 Bulan Disuspensi, AISA Berpotensi Didepak


(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading