Fakta Soal Corona & China yang Buat Harga Batu Bara Drop

Market - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
24 February 2020 11:38
Konsumsi batu bara di 6 pembangkit listrik utama di China yang masih rendah & tambang yang mulai beroperasi tekan harga batu bara.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pekan kemarin, harga batu bara ditutup melemah. Virus corona yang kini dinamai COVID-19 masih menjadi sentimen utama yang menggerakkan berbagai harga komoditas, salah satunya batu bara.

Pada hari terakhir perdagangan Jumat (21/2/2020), harga batu bara kontrak berjangka ICE Newcastle ditutup melemah 0,75% ke level US$ 66,6/ton. Dalam sepekan kemarin, harga batu bara telah anjlok 4,72%.

China saat ini sedang meninjau berbagai data yang menunjukkan berbagai aktivitas perindustriannya sebagai basis kebijakan untuk memberikan stimulus untuk perekonomiannya yang kini sedang terkena musibah wabah COVID-19.


Sudah hampir dua bulan, COVID-19 telah menyebabkan lebih dari 76.000 orang di China terinfeksi dan lebih dari 2.200 orang terenggut nyawanya. Wabah ini membuat sektor bisnis di China dan rantai pasok menjadi terganggu.

Reuters melaporkan, para analis memperkirakan dampak virus corona terhadap perekonomian Negeri Panda berpotensi memangkas angka pertumbuhan PDB China lebih dari 1 persen poin pada 2020 dan konsumsi listrik diramal turun 1,5%.

Sektor tenaga listrik China masih didominasi oleh sumber energi dari batu bara. Porsinya sekitar 60%. Jika permintaan terhadap listrik turun, ada potensi besar permintaan terhadap batu bara juga turun.

Virus corona yang merebak jelang perayaan tahun baru China (imlek) memang membuat aktivitas perdagangan terganggu. Memang secara musiman, konsumsi batu bara saat libur tahun baru mengalami penurunan saat libur tahun baru. Namun setelah itu biasanya konsumsi akan kembali normal.

Berbeda dengan tren biasanya, virus corona yang menjadi wabah di China membuat konsumsi batu bara di enam pembangkit listrik utama China sampai saat ini masih berada di bawah dari konsumsi harian pada waktu normal.
Foto: diambil dari Reuters
Selain itu, faktor lain yang juga menekan harga batu bara adalah kembali beroperasinya perusahaan tambang batu bara China. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Lu Junling selaku kepala departemen batu bara pemerintah China. Lu mengatakan dalam sebuah konferensi pers kapasitas operasi perusahaan-perusahaan batu bara China telah mencapai 76,5%.

Akibat virus corona, berbagai tambang batu bara di China menjadi ditutup dan tak beroperasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus agar tak semakin meluas. Akibatnya sempat ada indikasi China akan bergantung lebih banyak pada batu bara impor untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. 

Namun pemerintah China tak akan membiarkan itu terjadi begitu saja. Dengan beroperasinya kembali perusahaan - perusahaan tambang, membuat China yang awalnya diperkirakan akan sangat bergantung pada batu bara impor menjadi lebih mandiri.

Masih rendahnya konsumsi batu bara termal di enam pembangkit listrik utama dan kembali beroperasinya tambang batu bara Tiongkok membuat harga batu bara terkoreksi. Maklum China merupakan negara konsumen batu bara terbesar di dunia, sehingga apa yang terjadi di China saat ini turut menjadi sentimen penggerak harga komoditas ini


TIM RISET CNBC INDONESIA
(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading