Kecemasan Resesi Buat Euro Terkapar ke Level Terlemah 3 Tahun

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
21 February 2020 20:44
Kecemasan Resesi Buat Euro Terkapar ke Level Terlemah 3 Tahun
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar euro menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (21/2/2020) tetapi masih belum cukup jauh meninggalkan level terendahnya nyaris dalam 3 tahun terakhir yang disentuh Kamis kemarin.

Pada pukul 20:15 WIB, euro diperdagangkan di level US$ 1,0799, menguat 0,15% di pasar spot, melansir data Refintiv. Kamis kemarin, euro melemah 0,19% ke US$ 1.0783, yang merupakan level terlemah sejak 21 April 2017.

Serangkaian data yang dirilis dari zona euro hari ini belum banyak mengubah sentimen terhadap mata uang 19 negara ini. Markit melaporkan data aktivitas bisnis (manufaktur dan jasa) dari Prancis, Jerman, dan zona euro yang bervariasi.

Angka purchasing managers' index (PMI) manufaktur Prancis dirilis sebesar 49,7 untuk bulan Februari. Itu artinya sektor manufaktur Prancis kembali mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam 10 bulan terakhir. Sementara PMI jasa naik menjadi 52,6 dari sebelumnya 51.




PMI dari Markit menggunakan angka 50 sebagai batas kontraksi dan ekspansi. Di bawah 50 berarti kontraksi sementara di atas 50 berarti ekspansi. Dari Jerman, sektor manufakturnya melanjutkan kontraksi menjadi 14 bulan beruntun, meski angkanya membaik dari 45,3 menjadi 47,8. Sebaliknya sektor jasa menunjukkan penurunan ekspansi menjadi 53,3 dari sebelumnya 54,2.

Dari zona euro secara keseluruhan sektor manufaktur masih berkontraksi dengan angka indeks 49,1 sementara sektor jasa naik menjadi 52,8 dari sebelumnya 50,0. Selain itu, Eurostat mengkonfirmasi inflasi Januari sebesar 1,4% year-on-year, sama dengan pertumbuhan Januari 2019. Inflasi itu masih cukup jauh dari target European Central Bank (ECB) sebesar 2%.

Dari semua data itu, Jerman menjadi negara yang paling mendapat sorotan setelah pertumbuhan ekonominya stagnan di kuartal IV-2019, dan menghadapi ancaman resesi. Negeri Panser merupakan motor penggerak ekonomi zona euro, dan merupakan negara dengan nilai ekonomi terbesar di Eropa. Ketika motor penggerak loyo, tentunya akan berdampak ke negara-negara lainnya.

Pertumbuhan ekonomi Jerman di kuartal IV-2019 stagnan alias tidak tumbuh dari kuartal sebelumnya. Pada tahun lalu, Jerman sudah nyaris mengalami resesi akibat perang dagang AS dengan China.

"Tahun lalu kami menemukan seberapa sensitif ekonomi Jerman terhadap China, dan saya pikir setiap orang masih menganggap remeh bagaimana dampak ekonomi China ke Eropa" kata John Marley, konsultan senior dan spesialis manajemen risiko valuta asing di SmartCurrencyBusiness, sebagaimana dilansir Reuters.



Jerman adalah negara yang berorientasi ekspor dan China menjadi pasar terbesar ketiga. Pada tahun 2018, nilai ekspor Jerman ke China US$ 109,9 miliar atau menyumbang 7,1% dari total ekspor. Melambatnya perekonomian China akibat wabah virus corona tentu menurunkan permintaan dari Jerman, sehingga ekonomi Negeri Panzer juga berisiko terpukul.

Selain itu, pada Selasa (18/2/2020) data menunjukkan penurunan optimisme dari investor Jerman terkait kondisi ekonomi enam bulan ke depan. Data sentimen ekonomi Jerman yang dirilis oleh ZEW menunjukkan penurunan angka indeks menjadi 8,7 di bulan ini.

Angka di atas 0 masih menunjukkan optimisme, tapi jika dibandingkan bulan Januari mengalami penurunan tajam. Angka indeks sentimen ekonomi di bulan lalu sebesar 26,7. Ketika optimisme investor menurun, tentunya investasi juga akan melambat, dan ancaman resesi Jerman semakin tinggi. Akibatnya, euro terus tertekan.

TIM RISET CNBC INDONESIA 

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading