Wabah Corona Diprediksi Segera Berakhir, Rupiah Menguat Lagi

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
12 February 2020 18:10
Wabah Corona Diprediksi Segera Berakhir, Rupiah Menguat Lagi
Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah membukukan penguatan 2 hari beruntun setelah menguat tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (12/2/2020). Penguatan tersebut bisa dikatakan cukup bagus melihat mayoritas mata uang utama Asia melemah hari ini.

Rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,15% di Rp 13.640/US$, sayangnya level tersebut menjadi yang terkuat bagi rupiah pada hari ini. Setelahnya penguatan rupiah terus terpangkas bahkan sempat melemah 0,11% ke Rp 13.675/US$, sebelum mengakhiri perdagangan di level Rp 13.655/US$, menguat 0,04% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Selain rupiah, baht Thailand, won Korea Selatan, dan dolar Taiwan menjadi mata uang yang menguat, berturut-turut menguat 0,29%, 0,16%, dan 0,1% hingga pukul 16:30 WIB.


Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Benua Kuning.



Penyebaran wabah virus corona atau yang disebut Covid-19 yang mulai melambat membuat sentimen pelaku pasar membaik dan kembali ke aset-aset berisiko, rupiah pun mendapat rejeki.

Berdasarkan data dari satelit pemetaan ArcGis, total korban meninggal akibat Covid-19 sebanyak 1.115 orang. Dari total tersebut, sebanyak dua orang yang meninggal di luar China. Covid-19 kini telah menjangkiti lebih dari 45.000 orang di seluruh dunia. Tetapi jika dibandingkan dengan pekan lalu, penambahan jumlah pasien Covid-19 sudah mulai melambat



Selain itu, penasihat medis terkemuka di China mengatakan penyebaran Covid-19 akan mencapai puncaknya di bulan ini. Itu artinya dalam beberapa bulan ke depan, wabah virus yang berasal dari kota Wuhan tersebut akan berakhir.

Hal tersebut diperkuat oleh Zhong Nanshan, epidemiolog China yang berhasil 'mengusir' SARS pada 2002-2003, memperkirakan penyebaran virus Corona akan selesai dalam sekitar dua bulan mendatang.

"Saya berharap kejadian ini bisa selesai sekitar April," ujar Zhong, sebagaimana diwartakan Reuters.

Upaya China untuk meredam dampak Covid-19 ke ekonomi juga membuat pelaku pasar sedikit tenang.

Bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) di awal bulan menurunkan suku bunga reverse repo tenor 7 hari menjadi 2,4%, sementara tenor 14 hari diturunkan menjadi 2,55% guna meredam gejolak finansial akibat virus corona. Selain itu PBoC juga menyuntikkan likuiditas senilai 1,7 triliun yuan (US$ 242,74 miliar) melalui operasi pasar terbuka.

Selain itu, Pemerintah China juga akan memangkas bea masuk impor berbagai produk AS senilai US$ 75 miliar. Belum jelas produk apa saja yang dimaksud, yang pasti bea masuk yang sebelumnya 10% akan dipangkas menjadi 5%, dan yang sebelumnya 5% menjadi 2,5%.



Dalam rilis Kementerian Keuangan China yang dikutip CNBC International, pemangkasan bea masuk tersebut dilakukan untuk perkembangan perdagangan yang lebih sehat antara China dengan AS. Pemangkasan tersebut mulai berlaku pada 14 Februari nanti.

Dengan pemangkasan bea impor itu, perundingan dagang fase II akan berjalan lancar, dan bea masuk yang diterapkan kedua negara semakin dipangkas sehingga arus perdagangan global menjadi lancar, dan diharapkan mampu mengurangi dampak negatif dari wabah virus corona.


TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]




(pap/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading